0

Cerpen : Pelangi Di Matamu

Cerpen : Pelangi Di Matamu

cerpen : pelangi di matamu

“ Cinta tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya, dan jika saja kau mencintai dengan berbagai keinginan , maka wujudkanlah dia demikian, meluluhkan diri mengalir bagaikan kali, menemui muara sebagai labuhan dan tujuannya, tujuan dari cinta itu sendiri “. Dan aku pun demikian, merenda keinginan untuk ku larungkan ke tepian kali , dari parit parit hati  , dan itu kamu, muara akan sesuatu yang aku harap darimu , dan tanpa sebuah permintaan dan keterpaksaan.

Dan juga kamu, yang bersedia menjawab semua itu ,dan kau pun berkata “ biarkan semua mengalir dan apa adanya “ aku tersenyum kau juga, mengalir dan melarungkan satu persembahan yang kita tidak tahu apa dan bagaimana itu terlahir dan bagaimana akhirnya , tetapi akar cinta akan tumbuh meski di dalam air sekalipun , bukankah banyak contoh akan hal itu ?

Caroline, menyebrangi jembatan hatinya sendiri, dan mencampakan lenguh yang terlalu dalam “ he he puih ! aku tersenyum itu adalah salah satu jalan kebenaran, kau pantas lakukan dan bukan diam di selokan selokan yang mengeruhkan hati dan juga jiwamu , aku tersenyum , juga dia, dan entahlah, apakah itu senyum kepahitan ataukah kebahagian , dan jalan ini masih harus aku lalui juga caroline lalui.

Caroline, sungguh aku sayang , juga dia sayang ! menarik awan dalam gulungan, ya , gulungan hatinya sendiri , takllala cinta seperi sebuah besi yang berkarat, menolehku dan berkata “ haruskah aku menyerah atas inginnya, cinta yang telah sedemikian rupa merantaiku ? aku hanya tersenyum , juga dia, sayang ,senyum itu adalah senyum kepedihan , tak seperti yang di inginkan, olehku dan juga olehnya.

Dan aku bertutur “ kita telah lewati jalan, semua denagan kebahagiaan walau derita selalu mengintip untk menikamnya , dan bagaimana kau akan bangkit mengatasi hari dan malammu, bila kau tak mematahkan belenggu ikatan, yang di pagi hari pengalamanmu , telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu ? sesungguhnyalah apa yang kau namai kebebasan , tak lain dari mata terkuat di antara mata rantai belenggumu!. Aku hanya memandangnya, juga dia “ Bukankan seorang wanita itu adalah makhluk lemah ?  tanyanya , dan aku tersenyum lalu bertutur , wanita bukanlah seperti itu , seperti apa yang dia kira bahkan dapat lebih perkasa daripada pria !

Kelemahan sama halnya dengan mata rantai yang terapuh, baru setengah kebenaran di nyatakan dngan itu, karena kekuatanmu sama dengan mata rantainya yang terkukuh, mengukur diri dari amal yang terkecil adalah sama belaka seperti mengukur daya samudera dari kelembutan butir butir buihnya, menilaimu dari langkah langkah kegagalanmu adalah sungguh tiada beda, dengan menyalahkan musim musim, atas pasang surut kedatangannya di mayapada, dan aku berhenti bicara, memandangnya penuh cinta.

Cinta yang berbeda , kultur dan budaya, tapi atas nama cintalah pula semua perbedaan itu tiada, dan bagi yang tak mengerti akan merantainya dengan rantai besi , mengukuhkannya sebagai sebuah kemenangan  ! tapi sayang bagiku tidak ! dan caroline tertawa, aku juga “  marilah kita berjalan, jangan terdiam di tepian , tapi berjalan ke muara dan menamakan cinta kita adalah keabadian dan melarungkannya di kedalaman muara cinta itu sendiri, aku setuju, dia juga, berjalan ke altar cinta yang sepi tapi damai “ seseorang berkata  “ kau ku nikahkan sebagai bagian iman pada tuhan , maka saling mengasihilah kalian dengan keabadian cintamu “ amin..aku katakan , juga caroline . demi cinta menikah di altar cinta, dan mungkin tanpa doa dari orang orang yang aku dan caroline kasihi, karena mereka telah membelenggunya, sebagai si empunya, padahal tidak, hanya pelangi di matamu menerangi melebihi mentari di hari ini, dan berdua tertawa aku dan juga caroline  “ Terima kasih cinta “   greets

 

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *