0

Sang Nabi : Tentang Suka, Duka Dan Derita

Tentang Suka Dan Duka

Sang nabi : Tentang suka, duka dan derita

Dia berdiri, memandang sekeliling menunggu seseorang bicara, lalu seorang wanita bicara, menanyakan masalah suka dan duka. Yang di jawabnya :
Suka cita adalah duka cita
Yang terbuka kedoknya
Dari sumber yang sama, yang melahirkan tawa
Betapa seringnya mengalir air mata
Dan bagaimana mungkin terjadi yang lain ?.
Semakin dalam sang luka
Menggoreskan luka
Ke dalam sukma,
Maka semakin mampu sang kalbu
Mewadahi bahagia.
Bukankah piala minuman
Pernah menjalani pembakaran,
Ketika berada dalam pembuatan ?
Dahulu, bukankah seruling penghibur insan,
Sebilah kayu yang pernah di kerati,
Taklala dia dalam pembikinan?
Pabila engkau sedang bergembira, mengacalah
Dalam dalam ke lubuk hati
Di sana nanti engkau dapati
Bahwa hanya engkau yang pernah membuat derita
Berkemampuan memberimu bahagaia.
Pabila engkau berduka cita, mengacalah lagi ke lubuk hati
Di sanalah pula kau bakal menemui
Bahwa sesungguhnya engkau sedang menagisi
Sesuatu yang pernah engkau syukuri.
Di antara kalian ada yang mengatakan :
“ Suka cita lebih besar dari pada duka cita “.
Yang lain pun berpandangan :
“ Tidak, dukalah yang lebih besar dari suka.”
Tetapi aku berkata padamu
Bahwa keduanya tak terpisahkan
Bersama kedua duanya datang, dan bila yang satu
Sendiri bertamu di meja makanmu
Ingatlah selalu bahwa yang Lain
Sedang ternyenyak di pembaringanmu.
Sebenarnya engkau di tempatkan
Tepat di di tengah timbangan, yang adil
Menengahi kegembiraan dan kesedihan.
Hanya pabila engkau sedang hampa
Kau diam tak bergerak, dan seimbanglah takaran.
Ketika sang bendahara berkenan mengangkatmu
Untuk menguji berat emas perak di pingganDi saat itulah kesukaan dan kedukaan timbul tenggelam.

Tentang Derita

Dan guru pun terdengar bertutur kata :Pedihnya derita, adalah pecahnya peristiwa,
Koyaknya kulit ari yang membungkus kesadaran pengertian
Sebagaimana biji buah mesti pecah
Agar intinya terbuka merekah, bagi curahan cahaya surya
Demikian pun bagimu, kemestiaan tak terelakan
Mengenal derita serta merasakan kepedihan
Dan kalau saja hatimu masih peka di getari ketakjuban
Menyaksikan keghaiban yang terjadi sehari hari dalam kehidupan
Maka derita pedih itu tiada kurang menakjubkan daripada kegirangan
Dan kau pun rela menerima pergantian musim di hatimu
Sebagaimana kau senantiasa rela meerimapergeseran musim,
Yang silih berganti merayapi ladangmu, semusim datang dan semusim pergi
Maka engkau pun akan tenang memandang, meski agak pilu
Turunnya salju yang mengiris dingin
Di kala musim dingin tiba, menyinggahi hatimu
Banyak di antara yang kau derita, adalah pilihanmu sendiri
Dialah ramuan pahit pemberian hidup pada pribadi
Demi penyembuhan bagian yang parah di dalam hati
Maka, percayailah tabib itu, dan reguk habis ramuan kehidupan
Dengan cekatan tanpa bicara
Sebab tangannya, walau keras dan berat terasa
Mendapat bimbingan ghaib teramat lembut
Dan piala obat yang di bawakannya,
Walau peih terasa membakar bibir
Telah di kepal kepal oleh tanganNya
Dari tanahliat yang di bubuhi air,
Tetesan air mata keramatNya.

( Sumber : Sang Nabi, Kahlil Gibran, Terjemahan : Sri Kusdyantinah )

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *