0

Bukit sunyi serpihan hati

bukit sunyi serpihan hati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tertera relief dari samar kabut dan menghantar pikir ke masa lalu, mendinginkan air laksana salju.. untuk kita pahat”apa yang akan kau tulisi?” relief kehidupan di masa datang sebagai sebuah pelajaran dari sunyi dan sendiri.

Di bukit sunyi dan tak ada keramaian, tapi penuh dengan kedamaian dari hijau alam ”

Demi kehidupan baru, Tak usahlah memetik ingin di puncak bukit, tidurkanlah itu, sebab ingin di sini adalah semak dan jalinan akar, yang saling erat berpegang demi menjalin waktu dan riwayat dan akulah saksinya!.

Yang menjalin masa di masa lalu, kecil menjadi besar, sedikit demi sedikit. Mengaromakan bunga hutan sebagai anggrek putih seputih air yang menyapanya, setiap embun jatuh dan tak ingin balas budi.

Sebuah keinginan

Hanya ingin menumbuhkan sang anggrek, dan itu cukup membuatnya bahagia. Menumbuhkan kelopak demi kelopak sebagai bagian riwayat, di bukit sunyilah rasa itu datang, selalu ingin dan juga harap tak tersempurnakan.. tak menjamah asa yang setiap waktu berjuang mengejar harap di ketinggian, atau dalam hembusan malam.

Alam memang menawarkan kegembiraan, dan bukan sebaliknya memberi keteduhan dan juga gambar-gambar hidup sebagai relief.

Di bukit sunyilah rasa itu datang, menikam dan selalu menghujam! bercerita tentang kisah-kisah duka dan juga nestapa.

”dengarkan dan perjuangkan” setapak jalan hati mengaliri nadi hidup alam ini, memperjuangkan kehidupan agar tak pernah berhenti.

Selalu berjalan dan tak pernah berhenti, walau di setiap kelok ada yang kau tangisi! lalulah berjalan dan jangan berhenti di persimpangan, sebab jalan masih panjang, berhenti dan terus mendaki atau menyebrangi hidup ini sendiri.

Lewat jembatan kegigihan yang selalu engkau genggam dan tak pernah pupus sebagai harapan, harapan yang suatu saat menjadi imbalan dari lelahnya perjalanan.

Di Bukit Sunyi

Di bukit sunyilah rasa itu datang, bukan kesakitan lagi , tetapi tempat pembaringan untuk mengobati segala kesakitan, sebagai penawar dari sebuah nafsu yang menggemuruhkan gelombang pasang yang enggan engkau surutkan.

Di bukit sunyilah rasa itu datang, selalu menulisi lagi ,membaca petanya berulangkali dan mencobanya lagi.

Di bukit sunyilah rasa itu datang, semua akan terobati dari nafsu yang kau diami sebagai kendali dari ingin yang kau lukis menjadi kedamaian dan akan selalu menjadi  kedamaian juga penerang jalan.

Tak pernah itu terlukarkan! di bukit sunyilah rasa itu datang.. ada hati dan juga damai.

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *