0

Cerpen : Buku Ini Aku Simpan

Cerpen : Buku Ini Aku Simpan

cerpen : Buku ini aku simpan

Andai kata aku tak merapikan lemari kembali, buku usang ini mungkin tak aka aku dapati, “ Sesuatu yang terdapat di dalamnya amat berharga bagi diriku “ hati Rio bicara, dan entah mengapa setitikair mata seakan menghayutkannya dalam kenangan “ Suatu saat yang ia tinggalkan “  ia coba rapikan sampulnya, serasa merapikan kembali akan ingatan yang selalu ia kenang “ Untuk sebuah nama.

Lalu ia beranjak , mengambil langkah sedepa , coba mengeja satu persatu kata yang ia punya, melapalkan do’a agar ia tak lupa “ Untuk sebuah nama “ dengan hati hati ia membuka halaman pertama sebagai pembuka , catatan di dalamnya adalah bulir air mata yang berjatuhan , tetapi ia coba bertahan untuk tak melupakan sebuah nama, melaburi memori yang kini seakan terkenang kembali.

Satu catatan ,pembuka dan ia ambil napas lagi melenguh dan coba pandangi tulisan dalam buku yang berjajar rapi “ tetapi sayang , tak serapi apa yang aku inginkan “ : Halaman ke satu , tertulis navigasi inti “ untuk kau kenang” dengan tanda panah yang mengarah pada apa yang akan ia baca selanjutnya, rida seorang wanita pujaan , primadona di masanya, dan ia tertawa saat rida katakan  “ Ayolah Rio bergembiralah , ia bangkit atas ajakan rida walau hatinya bertanya “ Sesungguhnya aku mencintaimu, tahukah kau akan hal itu ? tetapi yang ada hanyalah “ ya , ya dan ia larut dalam kenisbian dari apa yang ia pertanyakan , dan rida asyik dengan apa yan ialakukan sampai mukhtar jhon datang menjemputnya, dan ia pun berkata “ besok kita lanjutkan , Rio ! katanya elangkah mendekati jhon dan berbicara, entah apa yag mereka bicarakan , hanya lambaian tangannya saja yang kemudian menghilang dalam pandangan.

Halaman kedua, dan masih saja sama pertanyaannya, dan kali ini rida datang dengan wajah yang terlihat sedih “ Ada apa gerangan ? rio  hanya dapat bertanya dalam hati sampai rida mendekat, dan ia katakan “ Rio tahukah kau ? tanyanya , rio hanya menggeleng mana tahu atuh he he “ hari ini kita bersama , tetapi tak tahu esok atau lusa, mungkin kita berpisah ,” memang kenapa ? , kali ini rio bertaya.

“ Ya, rio , papaku pindah tugas keluar kota,  “ Juga sampai saat mukhtar jhonmenjempunya “ hh..ingin rasanya ia marah, lalu untuk apa, halaman seterusnya, dan esok hari aku tak bertemu ridha lagi, seperti yang ia katakan, dan tak ada halaman hari yang aku tulisi lagi dengannya, setidaknya untuk hari ini , lagianIa  bukan apa apa untukku, hanya akulah yang mencintainya dan ku simpan sebagai rahasia “. Rahasia seorang lelaki, huh..Mukhtar Jhon lah yang punya kesempatan untuk itu, dan rio baringkan tubuh, mengukur tubuh sedepa sedepa, ya seperti keinginannya untuk mencinta ridha, “ Susah juga ya mikirin cinta itu he he “.

Lama tak bersua, bagaimana ridha sekarang, apa ia masih mengingatku  ?“ batin rio. Seseorang mengetuk pintu, malas ia bukakan , ya siapa lagi yang mengganggu tidur siangku , bangkit dengan rasa malas, membuka pintu dan hampir saja ia pingsan, he he apalagi tuh rio, tenanglah kawan !. Ya , seseorang berdiri, ragu ia pandangi , dalam hati bertanya “ Kau kah itu ridha ? dan seseorang itu tertawa , membuka kacamatanya yang menempel di hidung bangirnya dan terlihatlah wajah asli ridha, alis yang hitam bak bulan sabit juga mata bening yang masih rio ingat, he he syukurlah kau masih ingat aku ‘ katanya, ‘ Oh ya maafkan aku ridha, ayo masuklah kedalam dan duduk dishofa tanya kabar dan tentang apa saja , dan ridha berkata “ Rio , tahukah kau akan hatiku ? pertanyaan seorang sahabat pikir rio, tdetapi sesaat rio terpesona dan bahagia apa yang ia tunggu dan dambakan tak sia sia dan ridha pun berkata,” aku, pasti akan selalu mengingatmu, dan harapanku semoga juga harapanmu !  apakah itu sobat cer-per? “ aku menunggu kabar darimu, dan aku kira kau tak mengingatku lagi, aku selalu menunggu untuk mencintaimu , sampai hari ini aku jemput cinta itu darimu “ katanya, dan ia melanjutkan “ Maukah kau ? Tanyanya, aku bingung , bahagia dan bertanya hanya ada satu yang masih tersisa untuk kesadaranku , aku mengangguk dan tersenyum “  Buku ini aku simpan, dan sekarang akan aku torehkan catatan, mengambil pena hati dan menulisinya untuk pertama kali “ Cinta yang tersampaikan “ dan itu bukan mimpi tetapi sebuah kenyataan, sementara Mukhtar jhon aku tinggalkan, salam penulis.

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *