0

Cerpen Cerita Cinta Sang Pengembara

Cerpen Cerita Cinta Sang Pengembara

Cerpen cerita cinta sang pengembara

Sang pengembara melantunkan lagu dan nada nada cinta dan puih! Tak semuanya terdengar merdu dan enak di telinga kita, ya yang namanya lagu cinta tak selalu dalam rangkaian not not yang sama jika saja tak mengenali nada apa yang seharusnya di lantunkan bagi sebuah lagu cinta.

Sang pengembara pun demikian, ia kadang seakan lupa nada apa yang seharusnya ia buat, ya , yang ia rasa terkadang pula cinta seakan menghanyutkannya dan melupakan apa yang seharusnya ada dan terdengar , padahal not yang terlampir adalah nyayian buaian asmara yang seharusnya,

Lalu sang pengembara pun menggubahnya dengan nada yang lebih menggema dan coba ia lantunkan, tetapi rasanya seakan asing di telinga , dan ia tertawa ya ini cinta yang menggelora dan itulah seharusnya menjadi nada dari lagu yang ia coba untuk menggubahnya.

Dan suatu pagi ia coba melantunkan sebuah nada kesedihan, dan ah ia tak kuasa untuk melanjutkannya, mengapa dalam lagu cinta mesti ada kesedihan ? tanyanya pada dirinya sendiri, lalu untuk apa dan siapa lagu ini aku nyanyikan ? dengan pekikan melodi yang seakan erangan kesakitan , dan lalu ia menyimpannya sebagai sebuah pemikiran, cinta bukanlah sebuah kesedihan walaupun tentu itu akan menjadi bagian dari perjalanan lagu cinta itu sendiri.

Dan sudah jauh perjalanan dan juga pengembaraan, dan seharusnya sang pengembara mulai mencatat satu demi satu dari bagian cinta yang di laluinya,walau terasa enggan untuk itu, sang pengembara dalam catatan “ Cinta adalah sebuah pengandaian yang terbungkus harapan , dan kita seakan melihatnya nyata , padahal tidak dan hanya waktu , perjalanan dan pengorbananlah yang akan membuat sebuah cinta nyata bagi kita, ia lihat catatan itu lagi, rasanya cukup seperti itu.

Hari lainnya ia menulis, benarkah cinta seperti ombak lautan atau air pasang, menghanyutkan perasaan dan akal manusia atau ia hanyalah sebuah racun belaka, ia tertawa lalu mengernyitkan keningnya, di satu saat cinta seakan meggelora bak air pasang di lautan tetapi di satu saat ia juga surut dan lara menerjang” catatan itu ia pertimbangkan sebagai sebuah kesesuaian dan ia juga simpan catatan itu.

Hari terakhir ia menulis “ apa benar juga cinta adalah sebuah kesedihan dalam hidup manusia, ia pikirkan sejenak, dan ia tersenyum, ya rasanya seperti itu, gumamnya, sebab cinta bukan hanya andai dan harapan , bukan juga menggelora bak air pasang lautan tetapi juga kesedihan yang mendalam atas penghianatan dan kehilangannya, dan sang pengembara cinta masih ingat bagaimana pekikan melodi untuk itu ia mainkan, mengiris hati dan perasaan , dan ia juga tak lupa bagaimaha cinta bergelora dan seakan melupakan segalanya, dan tentu ia tak lupa bagaimana cinta mengandai andai dan memberi harapan padanya. Harapan yang mesti ia bayar dengan waktu dan pengorbanan , dan catatan paling akhir dari sisa harapan cintanya adalah “ Bagaimana aku dapat mencintai tuhanku seperti aku mencintai diriku sendiri dan tuhan mencintaiku ? tak ada catatan , juga tak ada jawaban, sang pengembara cinta mungkin akan bertemu dengan cinta yang belum ia kenal sepenuhnya , cinta sejati pada ilahi, ia telah tiada dan semoga cinta itu akan kau temui di sana, di hadapan tuhanu, salam penulis.

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *