0

Cerpen : Di Persimpangan Jalan

Cerpen :  Di Persimpangan Jalan

cerpen : di persimpangan jalan

Jika saja bukan karena suatu pertaruhan , semua yang terjadi tak akan pernah terjadi, ku ingat lagi kisah ini, dan Bawi mereguk secangkir kopi, rasanya lelah memikirkan apa yang terjadi dan ia alami , masalah berat yang butuh solusi,  cinta dan cinta itu yang terjadi dan memenuhi setiap kisah manusia.

“ Aku hanya mengenalmu kala itu, dan sahabatku mengatakan ini “  Bawi , aku rasa Rosmini seperti punya perasaan suka padamu “ katanya, dan bawi hanya tersenyum, mengelus dada bidangnya dan bicara “ he he itu perasaanmu saja  sobat, katanya ia berucap. “ bener itu Wi, ya jika tak karena suka mengapa ia memandangimu saja, seperti saat ini dan kau tak tahu itu ! sahabat seakan tak ragu apa yang ia rasakan, Bawi memandang sahabatnya, agak heran juga ia “ sahabat mengangguk “ lihatlah kesana dan kau lihat  mata itu ! ungkapnya dengan isyarat.

Bawi mengerti, sejenak ia menoleh, rosmini tersenyum, entah karena ketahuan atau ia ingin di perhatikan , puih ! ya juga pikirnya , tetapi mana bisa, yang ia tahu Rosmini banyak yang suka entahlah, apa ia semanis gula hingga laki laki banyak yang suka dan mengerubunginya ? dan Bawi tak pernah pikirkan , apa ia harus mendapatkannya, dan sahabat tersenyum.

Dan , entah mengapa ? pagi sekali ia bekerja, belum ada siapa siapa, dan yang tak ia nyana, Rosmini juga ada, apakah ini jalan pertemuannya “ pagi menyilangkan hati, perasaan tak lagi mesti terbagi , apa yang ada kita tangkapi , walau tak tak tahu kemana ia akan mengemudi ! ragu ia bertanya “ Pagi ! salam Bawi ya , gadis cantik ini ( ya kebiasaan ! cantik lagi ya, biar enak lanjutkan cerita he he ), agak malu juga, tetapi syukurlah Rosmini menjawabnya “ Pagi juga, Jawabnya di sela barisan gigi yang  berjejer rapi dan putih bersih,  “ Eh iya juga kata sahabat, ia wanita cantik dan anggun, tetapi..ah mana mungkin ? batin bawi yang segera menghentikan lamunannya akan rosmini dan pertemuan itu akhirnya berlalu begitu saja.

Lalu sahabat bertanya  “ Apakah kau menyukainya Wi ? tanyanya , Bawi diam , tersenyum lalu “ entahlah sahabat , apa yang mungkin bagi diriku untuk mendapatkannya !. “ Semua hari berlalu seakan meninggalkan pertemuan yang berlalu , tetapi tetaplah waktu akan terus menunggu.Yang Bawi tahu setiap waktu , banyak lelaki menggoda wanita itu “ Dan ia meminggirkan diri begitu saja, tak ia bangga karenanya, memandang diri seakan tak berharap dan ia sembunyikan dalam senyap “ perlahan tapi pasti Bawi pun menyukainya, puih ! akhirnya kena juga.

Dan sahabat tahu itu, ia tersenyum dan datang lagi “ Cobalah Wi, siapa tahu kau hoki! Tersenyum ,tapi sayang , tersenyum dari barisan gigi yang tak rapi lagi, dan menurut ceritanya akibat ia pernah tertabrak metromini , ah kasihan , tapi masih untung tak mati ! , Bawi hanya menatapnya dan sahabat pun berkata “ Itulah yang aku takutkan Wi, kau mencintainya, dan kau tahu banyak lelaki yang suka padanya ! kata sang sahabat,  “ itulah yang tak aku mengerti , sobat, tetapi kali ini biarlah aku hadapi demi rasa penasaran di hati “ wah hebat juga Bawi ! “ sahabat bicara “ he he sungguh kamu berani wi ? seakan ia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah Bawi ?,  memandang lekuk wajah bawi yang tenang dan mengatakan “ lihat saja nanti , kau akan tahu , dan seperti itulah aku , jawab bawi singkat.

Sahabat sih penasaran, “ Apa benar yang bawi ucapkan ? pagi sekali ia datang dan menunggu sebuah keajaiban ! tak kunjung ia lihat, dan akhirnya ia tinggalkan penantian sampai jam istirahat tiba, lewati tangga berjalan , dan memandang di kejauhan, melihat keajaiban sahabat “ Bawi tampil sebagai pemenang dan ia lihat bergandengan tangan , dengan Rosmini sang bintang yang di sukai banyak lelaki “ sahabat menepuk kening seakan tak percaya, di kejauhan Bawi tertawa.

Mereka pacaran, sahabat pun berujar “ tak aku sangsikan Wi, kau piawai menggaet perempuan ! katanya , Bawi tersenyum kecil, dan hari hari ia lewati bersama rosmini dan juga kakak laki laki yang setia menungguinya saat ia pulang. Dan waktu berjalan sampai Bawi putuskan rosmini akan ia nikahi, sampai sebuah tragedi terjadi dan sampai saat ini tak ia mengerti , mengapa rosmini tega lakukan itu ?

Sampai sang kakak bicara, “ Maapkan aku Wi ? kata sang kakak ragu untuk bicara, bawi keheranan  “ mengapa dan ada apa, jangan ragu, bicaralah kak, apa kakak ragu aku mencintai adikmu ? rentetan pertanyaan Bawi ajukan , he he percis peluru nyasar ! tapi aneh ! sang kakak ragu dan bimbang “ mari kita makan dan nanti kita lanjutkan ! katanya dan Bawi mengiyakan, dan selesai makan apa yang bawi dengar ?

Sebuah peryataan akan kenyatan, pedih ia rasakan ! hem apalagi ya ? ya sebuah pengakuan, tetapi amat menyakitkan , ya sang kakak bukanlah kakak tetapi ia adalah suaminya, suami rosmini ! paya..h juga tuh cewek ! panjang lebar sang kakak ( Suaminya ) bicara, Bawi mengerti berterima kasih dan lalu pergi sampai ia bertemu Rosmini, mengadukan apa yang ia ketahui, rosmini berkilah , tetapi tangisan tak dapat sembunyi, dan bawi bicara seperti ini “ Ros, jauh sudah kau aku cintai, merenda hari dengan jalinan sutera untuk kita bina, tetapi apakah ini caramu menyakitiku, dan apa yang telah aku sakiti darimu “ mengendalikan kesal di dada, rosmini pun bicara “ Jangan percaya, itu hanya pengakuannya saja ! tetapi bawi percaya dan akhirnya rosmini akui  “ Ya “ ia menikah karena terpaksa, terpaksa karena orang tuanya ( Pusing ah masih saja ada ya sobat,  lha wong cinta bagaimana kita yang punya ! ).

Sebuah jalan di persimpangan , sisi lain bawi mencintainya tetapi di sisi lain itu adalah racun baginya, ia tak berkata, diam menahan air mata dan lukanya,  menekurkan diri di tepi lantai yang terbangun dan menjadi saksi , dua penghianatan, wanita pada seorang suami,  di lain pihak lelaki yang sangat ia cintai, Bawi. Tak mampu bertahan bawi titikan air mata, seorang lelaki sejati pun pantas menangis demi sebuah kesalahan , mesti itu tak sepengetahuannya , tetapi tetaplah ia telah menyakiti lelaki lain dan itu berarti juga menyakiti dirinya sendiri, dan ia masih berdiri, rosmini terduduk di lantai, bawi pandangi “ Mulai hari ini kau bukan siapa siapa lagi bagiku ! katanya dan lalu ia tinggalkan, sementara rosmini memandang dengan sejumput kekecewan , padahal seharusnya ia kecewa terhadap apa yang ia lakukan !.

Semenjak itu tak ada lagi matahari, matahari yang akan aku bimbing sinarnya demi sebuah cinta, tetapi bukan cinta seperti apa yang rosmini lakukan padanya, tetapi sinar yang akan menyinari tunas baru sebagai tunas harapan dari cintanya tanpa sebuah penghianatan , dan bawi masih berdiri di persimpangan jalan,  salam penulis. ( Cihampelas dalam ingatan 86 – 87 ).

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *