0

Cerpen Dia

Cerpen Dia, Aku tak hanya berkata, ketika jawabmu adalah pandangan matamu, atau aku bisa saja menebak apa yang ada dalam kediamanmu , ya atau tidak ?, dan aku bawakan bunga untukmu . lalu kau katakan tidak “ Dan bunga tak akan selalu indah ataupun wangi, dia pun dapat menjadikan dirinya dari perbendaharaan dari kata kata tidak, setidaknya itu baginya, bagi Dia.

Lalu , aku pun terdiam dalam kekeluan lidahku, “ Dan sejuta makna , engkau samarkan bagiku, serta merta aku bawakan rindu ini  untuk mu, tetapi jawabmu adalah entah !, juga dalam kediaman dan pandangan matamu “ Bahwa tak selalu rindu yang tertawarkan akan mendapat jawaban dari kebisuanmu, dan aku tertawa, menertawakan diri yang selalu ragu dalam memilikimu.

Dan Dia, selalu saja wanita yang aku cinta, walau aku bahkan kau pun tahu , ia selalu terbungkus kebisuan , menyamarkan harapan dan seakan menampar berbagai keinginan, dan dia adalah dia tak dapat aku memaksanya untuk apa yang aku mau, dia adalahh dia wanita yang mempunyai rasa dan perasaan  sebagai cinta yang belum mekar dalam pertumbuhannya.

Lalu aku pun berpaling dari semua itu, tetapi waktu memaksaku untuk tak begitu , dan dia hanya berkata “ Waktu adalah utama, selalu akan membuat suasana yang berbeda, menawarkan harapan dan keinginan dengan syarat kesabaran , dan aku pun menunggu, menunggu waktu yang selalu mempersilahkanku untuk selalu menunggu, menunggui dari sekian banyak waktu, dan akhirnya aku pun tahu, sang waktu adalah dia , dia yang akan memanggilmu saatnya nanti.

Dan dia, adalah kesabaran yang ku punya, sampai akhirnya ia berkata padaku “ Sesuatu adalah kesabaran dan bukanlah satu atau banyak pujian, lalu dia berkata lagi “ tak perlulah kau menunggu cintaku, karena ia akan datang, dan tak bolehlah kau sampaikan rindu dari sekian banyak rindumu, karena dia juga akan mennggumu dalam kasih suatu waktu.

Dan lalu ia katakan pula “ Bunga adalah perlambang dan tak usah kau permainkan, seperti aku seorang wanita, selalu menunggu kesejatian akan cinta dari sudut yang berbeda, dari hati yang tertunda dan dari rindu yang seakan meghalangiku sekian waktu, dan saat ini marilah kita sampaikan , ujung dari sebuah penantian, bahwa aku adalah dirimu , dan begitupun juga denganmu. Dari dia aku mengerti, dari dia yang ku miliki , apa dan mengapa cinta tak semudah itu kita dapati ! “ Untuk dia yang ku cinta dan mencinta, salam penulis.

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *