0

Cerpen Kutinggalkan Dan Kukenangkan

Cerpen, Kau Yang Ku Tinggalkan, Kau Yang Ku kenangkan, Sesuatu yang patut aku perbandingkan dan maaf, masa lalu , seorang wanita adalah kesederhanaan dan budi pekerti , menjaga kehormatan dirinya sebagai sesuatu yang agung demi kehormatannya “ untuk seorang wanita yang ku tinggalkan “ dan akhirnya pengelanaan cintaku sia sia.  Meilani , nama itu kutinggalkan, tetapi sesuatu yang aku rasa kesejatian tertanggalkan.

Aku mendaki, ingin meraih puncak gunung setinggi yang ku mau, perjalanan patok ke satu, aku mengenalnya sebagai Lani, he he gadis muda belia lulus SMA pada masa itu, ya ia memandang , tersenyum seakan itu menjadi awal perkenalannya “ Ya namaku zeep saiful rahman aku perkenalkan diri, berjabat tangan dan ia sebut namanya “ Aku lani , jawabnya malu malu, lalu sesudah itu ?

Ada kepenasaran, gadis lugu itu menjemput sukmaku yang terasa terendam kepenasaran, “tak akan aku biarkan dan aku mesti mendapatkannya”, Bisik hatiku seolah memberi dukungan, ya sebuah pengelanaan cinta ku mulai lagi dan kali ini, Lani.

Lalu aku memandang ke atas puncak, perjalanan masih jauh , hanya baru tiba pada patok kedua, dan kulanjutkan cerita “ Sebuah harapan aku perdengarkan padanya, sebuah harapan untuk mencintai dirinya .

Dan Kukenangkan

Enggan ia berkata,  tetapi yang aku rasa itu bukanlah suatu penolakan,  coba anda bayangkan, ia tersipu malu, wajah yang memerahlah tanda dari semua itu, yang aku katakan “ nggak apa apa , pikirlah dahulu dan akan aku tunggu jawabanmu !”.

Sampai semua awal itu berlalu, dia aku dapatkan, sebagai sebuah pengelanaan cinta, yang saat ini aku pikir adalah sia sia dan tidak pada masa itu !

Yang aku katakan “ Aku mencintaimu, tetapi sayang itu terbalut sebuah kepura puraan, seperti halnya es yang beku , begitu  kuat aku katakan padahal merupakan sebuah kepastian es yang keras akan mencair suatu waktu” tetapi tetap aku jalani itu, biarlah dia bahagia walau dalam kesemuanku, dan yang aku katakan “ mari kita jalani , bukankah kau sayang padaku ?

Hmm..ia tersenyum, entahlah apakah ia mengerti apa yang aku ucapkan atau hanya angin lalu, lalu rehat di patok ketiga, secangkir kopi menghangati tubuhku yang sedikit mengigil, sama seperti saat aku teringat waktu itu.

Beberapa bulan berlalu, hampir menginjak satu tahun bahkan, “ dan kusatukan sebuah harapannya , tapi sayang tidak dengan harapanku “ yang aku katakan  “ biarlah waktu berlalu dan kita tetap bersama, padahal yang ada adalah aku siap meninggalkannya, ah terasa menyiksa rasa itu sekarang  .

Tetapi tidak pada saat itu, dan aku terkesiap , secangkir kopi seakan hanyalah setetes air dalam lidahku yang biru, sebiru aku mengeja cerita demi cerita masa lalu ku satu persatu, bangkit dan menuju arah, kini patok empat , puncak sudah terlihat.

Ku denguskan napas dan menarik udara dalam dalam dalam hijau alam pegunungan “ Andai semua tak seperti itu, melangkah untuk menepi, tak berhenti di depan patok empat menanti.

Dan kembali aku mengeja,sebuah cerita lama, dan yang aku katakan adalah “ Tetaplah untuk berjalan, Lani cintaku sedemikian , padahal yang ada di kepala adalah sebentar lagi kau kehilangan ,aku terbang mengapai awan menebar kesemuan mengarah jalan yang salah” Lani tersenyum “ ya aku paham “ jawabnya.

Tetapi ia melanjutkan “ biarlah sebuah harapan , terbang menuju awan cinta bukanlah sebuah kepastian tetapi kemudi yang menuju arah kemana sang cinta di arahkan untuk satu tujuan “ agak terkesiap aku, tetapi pengelana tak kan gamang, dan yang aku katakan adalah .

Ya begitulah adanya, dan aku pamit pulang tak kembali dan lalu menghilang, menoreh kegelisahan sang perawan “ Yang ku inggalkan dan ku kenangkan, dan matahari tersipu di balik awan atau angin kencang yang seakan menyalahkan, kini berada di puncak gunung dan keagungannya, semua cerita telah aku ceritakan dan bukan kebahagiaan .

Patok patok hati telah aku lewati dan aku lupa untuk kembali ! berdiri di puncak dan aku kibarkan bendera merah putih di dadaku, menulisi awan dan semoga kau lihat dan kau pahami dari lelaki pecundang ! “

Maapkan atas segala kesalahan, dan semoga kau di beri ridho tuhan, buat seseorang yang bernama lani “ tak sempat ku tanda tangani, biarlah nanti saat turun dari puncak gunung ini, agar hati menepi dan ku tanda tangani dalam mimpi nanti. Bad Manner 1997 – west java

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *