0

Cerpen : Meski Cinta Tak Abadi Aku Mliki

Cerpen : Meski Cinta Tak Abadi AKu Miliki

cerpen : meski cinta tak aku miliki

“Cinta ini memang tulus dan tumbuh dari sekian relung hati, menanamnya dengan siraman kasih sayang dan pengertian yang tulus, tetapi buah dari itu tak harus dan ku paksa untuk aku dapatkan “, paragrafh pertama : masih aku ingat saat kau, laila,  mengatakan “ aku pun merindukanmu Joe ! hem,,sebuah kalimat yang sakral untuk di dapatkan dalam ke mengertian di antara seorang pria dan wanita, ya sebuah kebersamaan dan menjadi sebuah bunga harapan bagi yang merasakan dan menjalaninya.

Ada catatan kaki di bawahnya : “ Dan sadarlah, apa yang kau lepaskan itu ? tiada lain adalah gumpalan dari dirimu, jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu, maka , akuilah bahwa ia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri serta kau guratkan di atas permukaan keningmu “  dan serasa ada yang hilang dalam hati joe, tampak ia menghela napas, menyandarkan diri dalam bantal dan guling , merengkuh kesepian yang ia dapati.

Tetapi,  coretan hatinya lumayan dapat membuatnya tersenyum, paragrafh kedua : Laila, sang kekasih, bagaimana ia mendapatkannya, he he kadang ia tersenyum sendiri mengingat itu, Laila gadis berkerudung dan sulit untuk menaklukan hatinya, jika mendengarnya mengajukan syarat dan permintaan untuk menjadi kekasihnya, pertama kali heran juga ya, kok ada syarat untuk menjadi seorang kekasihnya mesti seperti yang ia syaratkan, gurat senyuman Joe jelas tersungging , patahan patahan hatinya seakan akan sesuatu yang terlupa jika kenangan manis itu muncul di hadapannya, dalam ingatannya “ hei , Joe , kau boleh menjadi kekasihku asalkan,, ! tetapi pada saat itu ia seakan tak sabar dan segera memotong ucapan Lalia, “ He he apa pun syaratnya ,aku mau dan lakukan ! “ Benarkah itu Joe ? tanya laila, walau ada kesangsian lewat  pertanyaannya ‘ Tentu saja Laila,aku benar benar ingin tulus mencintaimu aku akan lakukan semampuku , janji Joe.

Ya, nampak Laila tersenyum dalam barisan giginya yang berjejer rapi dan putih, sungguh indah sobat cer-per, wanita muslimah ini berucap “ ya kau mesti jangan tinggalkan shalatmu dan berprilakulah sebagai seorang muslim yang baik ! katanya, matanya menatap Joe yang lumayan celingukan, wong biasa di jalanan mana bisa itu ia lakukan , tetapi demi cinta tak ragu ia berkata “ Baiklah laila, aku janji, tetapi kau pun mesti berjanji menerimaku setulus hatimu ! pintanya, Laila tersenyum lagi  “tentu Joe, mana bisa aku mengingkari apa yang telah aku janjikan “, dan dari saat itulah mereka menjadi sepasang kekasih, di sinipun ada sebuah  catatan kaki yang sayang untuk di lewatkan : “ Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kau tanggalkan maka ingatlah bahwa beban itu tak pernah menjadi pilihanmu, bukannya telah di paksakan di atas pundakmu bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu bukannya berada pada dia yang kau takuti, sekali lagi Joe tersenyum dalam getir.

Dan dengan susah payah ia buktikan syarat itu pada wanita yang ia cintai, Laila, menarik diri dari jalanan, belajar shalat dan mengaji, he he pertama terasa berat juga, tetapi seakan akan wanita yang ia cintai itu adalah hikmah, perlahan dari keengganannya berubah menjadi sebuah kebiasaan yang baik, dan perubahan ini pun tak di sangka oleh Laila, ia hanya bersyukur lelaki yang mencintai dan di cintainya berubah arah ke jalan yang benar, sungguh ini sebuah bukti kebesaran dan keperkasaan Tuhan, ia ucapkando’a.

Dan dengan kepastian yang mantap mereka menikah dan menyatukan diri dalam ikatan kasih sayang lahir dan batin, ‘ sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil pencapaian maka kau akan bebas, bila hari hari tiada kosong dari beban pikiran dan malam malammu tiada sepi dari  kekurangan dan kesedihan, tetapi yang berhasil engkau atasi dan jaya tegak menjulang tinggi sempurna, terlepas segala tali temali “, sebuah keluarga yang pasti di harapkan oleh semua manusia, berjalan mulus serta bahagia sampai suatu hari sesuatu merenggut kebahagiaan yang mereka miliki, Laila wanita muslimah itu terjangkit sebuah penyakit, dan joe berkali kali mencoba untuk mengobati penyakit Laila, ya lelaki yang bertanggung jawab ini sekuat tenaga untuk mencoba berbagai hal demi kesembuhan penyakit sang isteri tercinta.

Tak kunjung sembuh juga, dan sesuatu yang seakan menghancurkan segalanya dalam hidup Joe terjadi, Tuhan telah memanggil wanita muslimah yang baik hati ini ke pangkuannya, joe hanya merasakan seakan tiadanya dunia, yang ada hanyalah kegelapan, meski sayup orang orang berusaha menyadarkannya serta memberi nasihat agar tetap tabah, joe tak bicara, tak sanggup ia membuka mata melihat jenazah wanita yang ia cintai kaku dan terbungkus kain kapan, dadanya sesak di sela jeritan hatinya “ Tuhan, mengapa kau ambil dia dari sisiku, andai saja bisa biarlah dia kau beri kehidupan dan gantilah dengan nyawaku ini ! Tuhan adilkah engkau memberi sesuatu permata terhadapku yang berlumpur dan hina lalu kau ambil permata itu dengan sangat pedih !, tak ada jawaban , tuhan hanya berkehendak dengan iradatnya, tak lain dan tak bukan meski itu pedih bahkan teramat pedih untuk di rasakan.

Catatan kaki yang terakhir “Dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi, antara yang kau inginkan dan yang kau takuti, yang memuakan dan yang kau sanjung puji ,yang kau kejar dan yang hendak kau tinggal pergi , kesemuanya itu hadir dalam dirimu sendiri bagaikan sinar dan bayangan dalam pasangan pasangan yang lestari berpelukan, dan apabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang , maka sinar yang tinggal berwujudlah bayangan baru bagi sinar yang lain” dan Joe merasakan Laila tersenyum memeluknya hangat seolah nyata adanya, joe tersadar air matanya mengaliri pipi, hati yang teramat pedih dan menyisakan sesuatu yang sulit ia lupakan, sesuatu kehilangan yang menjadikannya hampa dan sosok Laila seakan mengingatkan “ Tabahlah dalam hidup Joe ‘ angin malam berdesir menyapu kenangan lewat daun jendela yang terbuka “ Selamat jalan kekasihku semoga kau mendapat kemuliaan di sisi Tuhan “ Ia bangkit menutup jendela seperti ia menutup segala kesedihan yang seakan menyakitinya dan Joe masih ingat saat terakhir Laila mengatakan “ Aku pun merindukanmu Joe, lalu ia mendekap erat, tak ingin lepaskan !, malam makin dingin dan joe baringkan tubuh seperti membaringkan semua kesedihan lewat tidur, sebentar ia tertidur, terlihat senyuman tersungging di balik mimpi, semoga kau bersua Joe !, salam penulis

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *