0

Cerpen, Rasa Ini

Cerpen, Rasa Ini

cerpen, rasa ini

Setiap kali ada, apa dan ada  di benak dan semua yang terlintas adalah sebuah tanya, mengukur diri dan menyambit sepi , ya, rasa ini telah tersakiti  sebuah kesalah pahaman akan cinta yang ku dambakan, namun akhirnya, ia hilang terbang seperti awan tersapu topan, ah ku urut dada yang seakan  sesak untuk ku bawa bernapas, bernapas pada kenyataan yang ada.

Urip duduk di bebatuan , menggarisi pinggirnya dengan tulisan hatinya seakan akan ingin terpahat di kerasnya , agar suatu saat semua orang akan tahu , membaca dan mengenangnya , mengenang urip sebagai bagian dari cinta yang kejam, sebuah penghianatan !.

Dan itu tersampaikan , saat ini batu itu masih ada , dan coretan urip masih ada sebagai pertanda , ia memang ada dan menjadi simbol runtuhnya hati seorang pria akibat penghianatan wanita, dan apa yang terjadi dengannya ? kita mengerti , tapi mengenaskan, karena urip mati dan bunuh diri karena keputus asaan, menyedihkan dan rasa ini “ Cinta bukanlah sebuah keputus asaan , cinta adalah sebentuk bayang bayang dan biarkan ia mengikuti kita dan janganlah pernah mengikutinya, mengikuti demi sebuah keputus asaan “.

Dan aku menyaksikan , apa yang urip rasakan , dan aku segera lupakan  hanya rasa ini “ Selamat tinggal kawan, satu pengorbanan dalam hidup telah kau sia sia kan demi sebuah bayangan” ku lipatkan hari dan ku tonggaki di batu ini “ Urip meninggal karena keputus asaan cintanya “ dan aku rasa itu cukup jelas bagi orang yang akan membacanya nanti, dan lalu aku pagari.

Dan mulai ke pinggir jalan, jalan hati yang lumayan terjal untuk ku daki, dan ada berita lagi, seseorang terbunuh lagi karena cinta, dan aku coba bertanya “ Siapa ? tak ku lihat siapa siapa, dan aku pergi karenanya, bagaimana itu terjadi , sampai rasa ini bertemu dengannya, lalu apa jawabnya ? “ ya, aku lakukan itu karenanya, karena rasa cinta dan mencintainya, dan ia terbunuh oleh cinta yang mendua , mendua dalam hatinya,  dan rasa ini “ Kawan, biarkanlah cintamu sebebas merpati , bebas terbang tinggi seperti yang ia ingin , tapi cinta menuju jalan sebagai pilihan dan bukan menjadi keraguan “ Dan ia pun berucap “ sekarang aku pun di penjara, dan aku berucap pula “ terimalah kawan, bukankah itu bayarannya ?”.  sebelum meninggalkannya pun rasa ini coba tulisi, bukan di tembok penjara, tetapi di pintunya “ seseorang terpenjara karena cinta” dan ku tulis begitu saja dan biarkan para sipir membacanya, agar terbuka pintu hati mereka.

Dan aku pun keluar dari sana, coba menggali dasar dari sebuah cinta, dan rasa ini “ cinta , seakan akan kaulah yang membebani pikir semua manusia, dan cinta tertawa “ tak seperti itu kawan ! enggan aku memarahinya, dan aku pergi, sandarkan diri di pohon jati, terik sekali siang ini, terasa teduh di rindang daun yang tak begitu tinggi, hampir ketiduran , andai orang orang tak berhamburan, mata ku picingkan “ ada apalagi ? hatiku penasaran , bangkit dan perhatikan !

Kiranya orang orang ketakutan , ya seorang gila telanjang dada, terkejut juga aku, tapi mana bisa aku lari,  ia berjalan ke arahku tersenyum dan lalu berkata “ Cinta ..cinta ! katanya seakan ia mengajak bicara, orang orang mengintip di kejauhan, dan aku coba bicara dan semoga dia masih mengingatnya “ Mengapa, dan ada apa dengan cinta sampai kau gila ? tanyaku, ia tersenyum lagi, aku maklum ia gila dan ia hanya menangis menggaruk garuk rambut kusutnya di sela badanya yang bercampur debu tanah di kulitnya, dan rasa ini “ cinta pun begitu pula, dan ada manusia yang gila karenanya, melupakan dirinya seakan bukan dirinya , tak mengingat seakan bukan ingatannya, dan ternyata cinta amat mengerikan  tidak sebagaimana yang ia perlihatkan “ ia hanya tertawa, menangis dan tersenyum lagi , rasa ini pun “ begitulah cinta , berdiri di antara semua yang ada tangis dalam senyum atau pun sebaliknya “ dan aku tinggalkan dia yang menangis kembali, dan untuk yang terakhir aku pun menulis lagi, “ tangisilah cinta sebagai mana ia menangisimu , juga lupakanlah cinta sebagaimana ia melupakanmu, demi keagungannya “ dan saat ini aku ingin tidur dan tak pernah terganggu lagi hanya untuk cinta, hanya wanita yang mengerti diriku sajalah yang ku cintai, salam penulis.

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *