0

Cerpen sebuah coretan dinding !

Cerpen sebuah coretan dinding ! Rasanya penat, hari tak lagi menawarkan sesuatu seperti adanya, ya  aku diam ,memandang awan putih di selingi tembusan matahari yang menghangatkan saat ini, tak biasanya seperti panas tempo hari.

Dan aku sadari , apa yang terjadi belakangan ini, ada banyak cerita kawan, seseorang yang meninggal karena kecelakaan ! ah , iba rasanya, tetapi itulah hidup manusia, sang ajal pasti menunggu dan tak pernah jemu sampai tepian waktu ia memanggil untuk kembali.

Lalu kunyalakan televisi, juga aku terlongo , ada banyak hal yang baru , tetapi miris bagiku , ada banyak cerita di sana, menawarkan takut dan kengerian, sudah seperti itukah zaman ?

Ya, berbagai cerita, amoralitas dan rasa kemanusiaan yang seolah sirna di telan kecanggihan zaman, semua bisa di dapat dan di lewati dengan berbagai cara, lalu aku baca kisah perampokan, juga sang korban, yang sayang telah di habisi nyawanya, ah , aku usap peluh yang tiba – tiba meluruh ,melewati dahi dan hampir terjatuh andai tak kuseka dengn saputangan kecilku.

ghjkll

Sebelum aku takut , aku coetkan di dinding “ Zaman bukanlah alur kemajuan, tetapi zaman adalah adanya peraturan , manusia dan manusia dan juga manusia dengan alam, kemanusiaan bukanlah sebagai topeng yang menabiri wajah kotormu , tetapi kemanusiaan adalah amanat tuhan, peraturan agar hidup manusia mencapai keseimbangan, itu yang tercatat, biarlah dinding kumal ini penuh dengan coretan, asal hati kita tak tercabik kotornya sebuah coretan dalam hidup manusia.

Ah , rasanya aku tak sanggup melihat kabar itu, aku sandarkan tubuh di kursi yang juga kumal , hanya saja nggak banyak coretan, paling ia di hiasi debu kemalasanku. Dan aku diam , menarik napasku yang tiba – tiba tersengal.

Sayang , itu nggak usai, seseorang bisikan, di ujung jalan sana juga ada pembunuhan ! aku tersentak, apa itu benar, dan aku lihat ke ujung jalan, ada banyak manusia , dan tak perlu pergi, aku tahu , memang itu jelas terjadi.

Sekali lagi aku usap peluh, kali ini mebasahi keningku, kadung , ku biarkan ia luruh dan jatuh, sepertinya ia tahi dan menangisi sebuah kekejama manusia pada manusia, hidup manusia dengan bagaimana ia habiskan , bukan dengan terpaksa lewat kekejaman, sekali lagi ku coretkan di dinding yang lumayan banyak coretannya. “  Begitulah kehidupan , dan andai kita manusia dan pemikiranmenjabarkannya , kematian adalah milik seseorang , tetapi seseorang lainnya merampasnya, ta itu adalah kengerian tetapi coretan yang ini lain lagi “ Hidup dan mati nyatanya seperti itu , dengan dan bagaimana jalannya ajal menjemput itu adalah taqdir seseorang “ dan ku letakan coretan itu di ujung dinding dan aku tandai sebagai pengingat , tanpa garis bawah.

Ah rasanya aku nggak ingin lagi mendengar dan melihat, apa yang tak seharusnya manusia perbuat, tetapi kenyataannya pula , setiap manusia mempunyai jalannya masing – masing, sebagai baik dan juga jahat.

Merangkak ore mendekati senja, ku segarkan diri dengan mandi , ya, agak sedikit nyaman, dan rasanya nggak ada yang akan aku dengar lagi, dan aku harap sudahi itu, sudahi dari apa yang membuatku berpikir tak mengerti, bagaimana semua dapat terjadi ?

Tapi seseorang berbisiklagi, walau kedua telinga telah aku tutupi kapas agar aku tak dengar lagi, mendengar sesuatu yang membuatku miris dan menyesakaan dada , tapi lagi – lagi, katanya “ Seorang wanita di perkosa , dan juga ia terbunuh setelah di perkosa !

Ingin aku teriak, Dia..am ! tetapi ia tetap berkata seperti itu, kadung ku sesakan coretan kali ini “ Mengapa semua harus terjadi dan juga mengapa, manusia tega melakukannya, memperkosa dan juga membunuhnya “ kali ini gemeretak gigiku rasanya , walaupun ada coretan lainya dan ku tandai sebagai pengingat, kali ini menggaris bawahinya dan ku warnai merah ! “ Bagi wanita, aurat adalah hal utama, jangan pergi sendiri dan jaga auratmu yang mana hal itu dapat membawamu pada kebinasaan ! Juga hal itu juga dapat pula memuliakanmu !

Aku lemparkan spidol yang sedari tadi mencoretkan kata sampai ketiga kali , tak ingin aku coretkan dari apa yang akan aku lihat dan dengar, biar aku sudahi, aku pandangi coretan – coretan pada dinding kumal ini, dan aku harap, itu cukup sampai di sini, tetapi biarlah itu ada sebagai pertanda dan peringatan bagi yang membacanya, bahwa hidup itu mesti seperti apa ?

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *