0

HIDUP DAN KEMATIAN: DIAKAH YANG MENGEMUDI ?

Hidup dan Kematian: Diakah yang Mengemudi ? Apabila jalanmu terjal, terasa lelah dan mendaki dan tak mugkin memetik sang bintang di ujung pelangi,mematahkan tulang-belulang dan tak dapat lagi terbang, tengoklah kembali jalan yang tadi kita lalui.

Tersenyumkah, atau membuat luka lagi? “tanggalkanlah detak jam dan juga lukarkan pakaian hari,demi sebuah jalan dan tujuan.
Debu dan kotoran hidup begitu berlumur di cermin tadi,juga detak jam yang tak ingin mengisyaratkan untuk menepi, tetapi selalu membentangkan jalan tak bertepi untuk kita lalui.

Sekarang! atau di masa datang meski dalam kesangsian ,kemana jalan yang akan kita lalui di persimpangan. Tetapi tetapkanlah di hati, bahwa hidup akan ada tujuan dan bertujuan walau kadang nisbi.
Lalu berteduhlah di dangau sunyi, diantara pematang..di antara hijau dan bulir bernas padi, tengoklah sang dangau sunyi yang menghikayatkan kedamaian dan juga keramaian tadi pagi.

 Melukiskan keringat di dahi sang petani atau ada nyanyian suka-cita menerima apa adanya dalam sesuap nasi yang ternikmati tadi pagi.

Lihatlah pula siulan burung di atas tangkai padi, yang selalu mengepakan sayap dan berjuang agar tetap seimbang,membawa harapan suka-cita dan doa-doa atas rejeki yang ada walaupun alfa untuk meminta.

Kemana Kita Berjalan

Tetapi biarlah tuhan ada di mana-mana dan menerima tiap doa dari hambanya, juga keikhlasan sang petani,untuk memberi sebagian rejeki yang tak terucapkan.
Begitu pula cinta,cintaku-cintamu,cinta yang berlumur kebencian dan kepalsuan , tak akanlah ia hidup abadi meski menyiraminya tiap pagi.

Bahkan melayukan dan mengeringkannya…dan lalu mati! Ingatlah lagi bernas padi yang menjadi pertanda dari si pemberi nikmat dan suka-cita,dari lafadz yang samar kita baca,juga sayup siulan burung tadi, entah dia berkata apa,atau mungkin saja dia berdoa untuk kita.

Diakah Yang Mengemudi ?

Diakah yang mengemudi? ketika senja menyapa lagi dan selalu menadahkan tangannya agar mentari segera menepi dan malam akan mendekapnya lagi.

Menidurkannya dengan kelembutan,menyelimutinya dengan dingin dan kesunyian,diakah yang mengemudi?.

Ketika malam tiba dan kita alfa serta bertanya”kemana kita akan kembali? lalui jalanmu lagi,cobalah untuk memilih dan tak tersesat lagi!.

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *