0

Misteri , Gua Tempat Para Pertapa

Misteri , Gua Tempat Para Pertapa, Dan , ketika di tanya salah seorang dari mereka, maka ia menjawabnya “ dunia bukanlah tempat hidup kita, dunia hanyalah sebagai persinggahan dan juga sempit waktunya, jika kita bandingkan dunia hanyalah sekedipan mata, tetapi suatu kehidupan yang akan kita alami nanti adalah seperti , saat kita terbangun dari tidur dan melihat dunia dengan nyata dan bukan hanya di dalam mimpi saja “ itu jawabannya.

Aku hanya termenung atas segala kealfaanku sebagai manusia, dan aku tinggalkan gua, dan hampir saja aku tanggalkan dunia dan segala isinya, tetapi dunia nyata seakan memanggilku , dan aku menoleh pada gua pertapa dan berkata, “ Memang kita punya jalan yang berbeda, Dunia memang sesaat tetapi beginilah adanya, dunia adalah tempat berpijak , tempat kita menyemai dan kan menuai hasilnya kelak, tetapi bersyukurlah kalian para pertapa, yang bisa dan biasa menempatkan keimanan dan pengabdian di atas segalanya.

Dan aku masih penasaran , menurut kabar ada pertapa kedua yang bijak , di balik tak keterlihatannya di balik semak, percis di dekat pohon besar yang di tumbuhi akar dari pohon tersebut yang menandakan usianya yang sudah lumayan tua atau bahkan sudah tua ! dan aku melihatnya berdoa, doa dari seorang pertapa, doa yang tak aku tahu juga lafalan yang tak terdengar mata batinku.

Lalu aku mendekatinya dan memerinya salam , ia masih terpekur , sejenak hening, sepi dan dia memuka matanya, mata yang bukanlah mata dzahir tetapi mata batin, sebagaiana aku melihatnya juga, menjawab salam dan mempersilahkan, tak ada jamuan , sebab makanan bukanlah keinginannya alam dan doa cukup mengenyangkannya, dan dia bicara “ mata manusia memang teramat buta, buta akan hidup yang sebenarnya, dan mereka hanya bilang awas pada mata mereka sendiri, sementara mereka buta akan dirinya sendiri dan terlunta sebagai pengelana di muka bumi , sungguh kata bijak yang seakan kesegaran yang aku sulit dapatkan , aku hanya meminta maap, dan kurasa pertemuan sesaat sudahlah cukup, aku tak mau mengganggu semedinya, ia menganggut , dari cahaya wajah dan juga janggutnya yang memutih dan hijab kembali menutupi alam nyata, sebagai pohon dan akakr akar yang menggantung, dan inilah ! banyak manusia banyak ang menapsirkannya , dengan banyak permintaan pada apa yang di lihatnya, bukan pada yang menempatinya.

Ku sauk air di kolam jernih di dekatnya, ku hamparkan sajadah, tuhan telah memanggilku untuk menghadapnya, menghadap dengan panggilan dan juga doa yang aku panjatkan, dan di sinilah aku bertapa, salam penulis.

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *