0

Perjalanan ke 3 Dunia Lain : Misteri Kematian

Perjalanan ke 3 Dunia Lain: Misteri Kematiannan ke 3 dunia lain Perjalanan selanjutnya, perjalanan ketigaku adalah perjalanan menembus alam kematian , di mana semua orang , manusia atau berbagai yang namanya makhluk akan merasakan dan menemui akhir perjalanan hidupnya, dan bertemu kematian” Sang penjemput ajal ”.Angin berhembus dan lalu diam , dan masih sempat kusandarkan tubuhdi bale dipan , menerawang akan yang hidup dan menjadi mati, dan itu adalah sebuah rahasia lagi untuk aku temui.

Mata tersaput gelap,  dan samar untuk aku lihat, yang aku lihat hanyalah kegelapan, seakan bumi bukanlah bumi dan serasa tubuh melayang ! lalu di manakah tempat berpijak , berkali kali aku tanyakan dalam kegelapan, dan lalu apakah yang terjadi ?, belum sadar akan semuanya, alam kembali terang seperti yang aku saksikan di alam nyata, dan aku lihat sekelilng , dalam diri aku bertanya di mana , dan alam apakah ini yang aku singgahi ?

Sesosok manusia atau bukan tampak berdiri, jubah hitam menutupi akan wajahnya yang ingin aku lihat , dan juga mata akan selalu samar untuk menatap sosok yang berdiri tinggi dan nampaknya memegang cemeti di tangan kiri serta sebilah belati di tangan yang lainnya. Dan aku miris akan pemandangan yang aku saksikan !, berbedakah semua yang ada ? aku rasa tidak, sebab alam sama seperti kita,  semua yang ada di sana juga ada, tetapi seakan sepi dari apa yang kita sebut  penghuni, apa itu perasaanku saja ? hanya ada serombongan yang lewat memakai baju seperti ihram, entah mau kemana dan tak begitu ku perhatikan, mereka hanya menatap asing diriku yang seakan sendiri, heran lalu berlalulah dan tanpa kata kata , seakan mereka sibuk akan urusannya sendiri.

Aku tersentak ! “ manusia, apa yang kau cari di sini, bukankah kau di beri kehidupan oleh sang maharaja alam ? pertanyaan biasa , tetapi suara itu seakan getaran dari ribuan kekuatan yang tak ku mengerti, hingga aku terdesak oleh kekuatan yang amat besar dan tak aku sangsikan kekuatan dasyatnya,  mundur ke belakang dan seakan limbung, telinga berdengung ! tapi coba untuk menjawab, “ Aku tahu itu, siapakah ikhwan ? tanyaku, Sosok itu hanya mengibaskan jubah hitamnya dan gemuruh seakan badai yang terkumpul. Semakin heran dan juga ketakutan menyelebungiku , aku bertahan , perjalanan belum sampai pada tujuan !.

Sosok itu terdengar bicara “pernahkah kau medengar namaku hai manusia, apakah kau tak pernah menangisi sesuatu yang hilang dalam hidupmu dan sebuah kehidupan ? pertanyaan yang bingung aku maknai , dan apa  rahasia yang terkandung di dalamnya, dan aku menggelengkan kepala, Lalu ia berkata lagi dan kali ini sepertinya sosok tersebut marah, “ Engkau manusia yang mempunyai kepenasaran akan sebuah kematian, padahal bukankah maha raja alam telah catatkan dalam kitab kitab yang Ia anugerahkan padamu ,sebagai makhlukNya ! Apa yang di sebut kematian sebagai rahasia, tak satu pun manusia akan tahu itu, juga aku yang menanggung tugas itu ! tetapi …aku coba memotong sosok jubah hitam yang sedang berbicara tersebut “ Sudahlah, ini bukan saatmu, dan kau tahu itu, tuhan tidak memberitahu aku sampai saat seorang manusia harus aku jemput, menjauhlah dari alam ini, dan lihatlah sanak famili menangisimu !.

Dan sosok jubah hitam itu membuka telapak tangannya yang seakan melebar membentuk sebuah gambar yang bergerak , dan aku terkesiap melihat pemandangan yang ada di telapak tangan sosok itu, “ ya , itu aku ! tak sadar aku berteriak “ Apa yan terjadi denganku, ya, aku lihat aku mati dan jasadku di layati para pelayat, orang tuaku tampak bersedih menangisi kepergianku begitu pula sanak familiku! Dan aku jatuh terduduk “ inikah kematian ? padahal aku hidup dan  sosok jubah hitam pun mengatakan demikian, dan sekarang hilang lenyap di telan awan ! menghilang entah kemana, serombongan yang berbaju ihram terlihat lewat, dan aku berlari mengejarnya untuk coba bertanya “ hanya mereka nampak pucat, dan tak peduli akan apa yang ada di hati dan ingin aku tanyakan dan aku bertanya, tetapi mereka hanya memandang heran dan tak berkata lalu pergi melanjutkan perjalanannya lagi.

Aku menangis di tengah padang luas, walau terasa dingin bukan panas seperti biasa kita rasakan , aku menunggu ,ya serombongan berbaju ihram terlihat di kejauhan, semoga aku dapatkan jawaban , harapku. Mendekat dan lewat di hadapanku dan aku coba bertanya “ ikhwan di manakah ini ? sama , hanya pandangan heran dari orang orang itu tak berkata dan lalu pergi, ah tetapi aku sempat dan seakan melihat sesuatu yang ganjil, dan aku berlari mengikuti rombongan itu, aku pandangi satu satu , ya ada yang aku kenal ! tapi bukankah ia sudah lama meninggal ? lalu mengapa ada dalam rombongan ini ? .

Maaf ikhwan Sadri, kenalkah kau padaku ? yang bernama Sadri dan telah lama wafat menolehku, sebentar ia berhenti dan bertanya “ Mengapa engkau ada di sini ? tanyanya” ini bukan alam mu kembalilah sebelum kau tersesat di dalamnya ! ia seakan menasihati, “ ya , tetapi mengapa mereka tak pada bicara ?  “ tentu ,mereka adalah rahasia tuhan dan akan kembali kepada tuhan, sekali lagi ini bukan alam dan waktu kematianmu, biarkan kami pergi menemui tuhan dan segala urusannya ! dan ia bergegas mengejar rombongan.

Awan menghitam, mengaburkan pandangan , guntur menggelegar dan aku ingat “ Inilah alam kematian itu ? tak terjawab , sebab aku mendengar tangisan dari sahabat sahabatku yang melayatiku . dan ada perih saat aku tahu aku berdiri dekat pintu dan memandangi jasadku, kasihan sekali !, dan maapkan aku yang membuat kalian bersedih , langkahkan kaki  mendekati jasadku dan aku seakan memakai pakaian dan mengepaskannya dengan tubuh kasarku, ya, penyatuan antara ruh dan jasad, lalu hitam dan tak ingat lagi, lalu aku dengar lagi seperti orang heran dan ketakutan “ Tedi hidup lagi ! heran dan terkejut  yang mereka dapatkan , dan aku rasa ibu mendekapku, “ Benarkah kau itu hidup dan tidak mati nak ? tanyanya, membuka mata dan bangun untuk duduk “ Ya mak jawabku di sela mata mata yang memandang penuh keheranan “ Sebuah kematian adalah saat di mana kita tahu akan kematian kita sendiri dan tak dapat lari kemana mana lagi ! ucapku ibu kembali menangis tapi kali ini adalah tangis kebahagiaan dan bukan lagi menangisi sebuah kematian , sekian, salam penulis.

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *