0

PUSARA HATI MENEMBUS KABUT

Pusara Hati Menembus Kabut

Pemakaman sebagai sebuah akhir dalam kehidupan yang nyata, saat para pengantar menundukan wajah-wajah mereka atau menyeka airmata mereka, sebagai pertanda dari dukacita dan juga menakbirkan kebesaran ilahi dari setiap berjalan.

 

imagesoap

Menabur bunga yang berarti, semoga tuhan merahmatinya dengan segala pengampunan atas dosa-dosanya.

Sanak famili yang selalu mengikrarkan sepi sebagai simpati diri,merebahkan pikir untuk sesaat dan tak lagi melajukan ingin serta harap atas kefanaan sang dunia!.

“dalam jiwa yang mati, sesungguhnya ada kehidupan dan bukanlah kematian seperti yang tergambarkan”. Kematian tiba dan tak dapat lagi kita mengelabui ataupun lari darinya.

Menyampaikan salam ilahi, mengalungkan bunga kemboja sebagai pertanda dan tulisan hidup akan di akhirinya, dengan keterpaksaan ataupun tidak, dengan dunia yang menyilaukan ataupun di kegelapan.

Tetaplah kematian itu akan tiba dan tak pernah membeda-bedakan, apa dan siapa.. tetaplah membawanya pergi.

Kematian akan melahirkan kehidupan untuk memulai tunas-tunas baru dan menulisinya lagi sebagai sebuah perjalanan.

Tunas-tunas muda yang selalu berucap”akulah-akulah! Dalm ketakmengertian, tetapi biarlah, itu berjalan menjadi selokan-selokan kecil yang riang dan menuju induknya.

Agar pengetahuan selalu menghampirinya dan paling tidak bersihkanlah selokan hati mereka dari sampah kedengkian dan pengingkaran!, dari rasa agung yang berlebihan, sedang kita tak mempunyai apapun juga.

Sedang kita tak mempunyai apa-apa! hanya sekedar memerankan sandiwara yang di tulis olehnya saja.

Pusara hati bukanlah kematian dari semangat yang tak pernah padam, untuk selalu memilin keterpurukan dan selalu membangunkan hati untuk terus berjalan.

”Menyusuri lebatnya rimba belantara atau melarung di gelombang pasang dan tak pernah sia-sia. Pusara hati bukanlah kematian dari lambang jiwa-jiwa kita, yang terbang dengan leluasa di angkasa raya.. agar sempat berdoa dan memuji akan kebesarannya.

Tak pernah lalai untuk kembali dan memijakan kaki di bumi tempat masa, dimana kita terhenti dan berhenti dan menghitung sebuah kebenaran dari pagi sampai malam nanti, menyusunnya sebagai sebuah rak kebenaran dan kealfaan dan membuat tanda-tanda untuk memperbaiki segala kealfaan.

Pusara hati bukanlah kematian, tetapi dialah yang selalu diam dan mematung diri dengan nisan kesabaran serta di uruk tanah pengabdian.

Menaburkan harapan dengan bunga mawar kasih sayang dan kedamaian agar tak ada lagi kebencian juga yang di sebut rasa dendam, pusara hati merenda hari dengan benang perjalanan yang terlewati dan terlalui.

Hari demi hari.. menyulamnya menjadi pusara-pusara hati yang indah, agar kita selalu mengingat kehadirannya ”kita ini siapa?.

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *