0

Saat mata hati kita terbutakan

Kita tulisi dengan tinta yang membawa kita dalam perjalanan dan seperti  terang merampas malam, mata hati yang terbutakan.

Apabila kau menoleh dan menggenggam keputus asaan dan bukanlah kau lukarkan, tak perlulah mengorbankan diri.

Lewat temali yang mengusung  diri ke tempat kenistaan meski sedikit. Dan juga mata hati yang terbutakan walau sepertinya tak ingin dan tak perlu melarung bahagia dan menukarkannya dengan duka ketika hidup serasa tak berarti.

Mari dan coba adili dengan rasa hatimu dan rasa kita yang bijaksana, tengadahlah ke langit dan bersegeralah tunduk ke tanah dan mari kita bertanya” telah adilkah kita menghukumnya?.

Menghukum hidup bukanlah suatu kepastian! Tapi kebodohan yang nyata, dalam hidup dan perjalanan hidup kita.

Mata hati yang terbutakan, apakah itu rindu yang selalu membuatmu kelu?  Janganlah seperti  itu sebab kerinduan bukanlah mahkota, yang akan membawa singgasananya untuk kita tempati sebagai keagungan dan kemuliaan.

Rindu hanyalah perwujudan waktu yang senantiasa menipumu dari waktu ke waktu, memberi pesan sebagai alasan untuk tetap seolah membimbingmu ke arah tujuan.

Mata hati yang terbutakan, “apakah itu pertengkaran? Yang selalu mengisyaratkan ke tidak benaran, dari hati yang selalu menipu diri dan menerbangkan kasih sayang dan kedamaian.

Bukalah halaman demi halaman sebagi akibat dari sebuah pertengkaran, apakah kau dapati kebahagiaan akan itu? “sebenarnya tak pernah ada satu pun pahala dan kebahagiaan di dalamnya bahkan tak ada atatan apapun!.

Mata hati yang terbutakan, demikian kita kisahkan asmara yang juga di sebut dengan kata-kata cinta, mengejanya dan berulang-ulang memaknainya untuk kita atau untuk semua orang.

Berilah sedikit keleluasaan inta untuk memberi pada yang lainnya, “Sebab kebahagiaan juga adalah pemberian tuhan”.

Mata Hati Yang Buta

matahatiyang

Mata hati yang terbutakan, bukanlah titipan dari perjalanan yang selalu mengingatkan kemana arah tujuan, dari yang selalu kau perturutkan,  juga bukan dengan keputus asaan yang selalu menikam dari belakang.

Memikulkan beban di bahumu ketika sedang berjalan! Mata hati yang terbutakan juga bukan pula rindu yang tak mengenal waktu,  ia hanyalah perdu yang malu untuk tegak berdiri dan lalu menghilang dan bersembunyi jauh dan tak tampak lagi.

Mata hati yang terbutakan juga bukanlah pertengkaran kesombongan yang selalu engkau angkuhkan dengan sedikit mukjijat tuhan yang selalu kita sandarkan sebagai sebuah kekuatan, padahal itu hanyalah kelemahan yang menghapus rasa sedikit demi sedikit.

Mata hati yang terbutakan bukanlah pula akhir dari sebuah cerita cinta, yang salah memaknainya! Jangan pernah ingin menaikinya tanpa tali kendali untuk mengemudikannya.

Mata hati yang terbutakan adalah mata hati yang tergambarkan samar dan tak berwarna lagi, samar dan tak lagi jelas.

Berdoalah di hari ini “Akan ku coba untuk ku lukis lagi demi hati ini”, Mari kita perlihatkan dan bukan terbutakan

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *