0

Sebuah Renungan, Cahaya Di Kegelapan

Sebuah Renungan, Cahaya Di Kegelapan

Jika saja kita, menelisik diri dan lalu kita merenungi, sebuah renungan terlahir,  he he menghamili hari dan menganak pinakan apa yang di sebut dengan ibu kehidupan dan mencari muara untuk mengalirkan anak anak sugai dari dalam hati dan pikir kita, atau melabuhkan sauh ke tepian pantai, melandaikan diri di pesisir , membersihkan buritan kalbu, dari kotoran dan lumut lumut dosa selama perjalanan.

Sebuah renungan, cahaya di kegelapan

Dan kita pun berkata “ Tuhan yang menciptakan berbagai kehidupan, tempat kita hidup dan berkaca, mensyukuri dan menikmati sebuah kehidupan yang begitu teramat indah untuk kita saksikan sebagai sebuah kebesaranNya, dan lalu kita pun berkata lagi “ Tuhan, terima kasih untuk semua yang Kau berikan “. Perjalanan yang panjang , tetapi amat teramat singkat untuk kita tulis sebagai sebuah cerita perjalanan, “ Semoga selamat di perjalanan “.

Kapal yang tertambatkan, begitu pula hati yang menambatkan puncak diri dalam kebesaran ilahi, di mana kita terlahir dan akan kembali lagi sebagai sebuah ciptaan yang di kembalikan sebagai asal mula, dari tak ada menjadi ada, dari kematian dan di beri kehidupan dan kita pun bertanya “ Apa yang telah diri ini perbuat untuk bekal perjalanan nanti  ?.

Mata kehidupan awas untuk melihat, panorama yang melambaikan tangan, lewat desiran angin yang berbisik” Lihatlah aku sebagai sebuah keajaiban, dan buatlah aku sesuatu yang tak ingin kau rusak , tetapi menjadi sesuatu lukisan yang kau gambari dengan tinta tinta kehidupan yang penuh makna “.

Lalu, kau nikmatilah apa yang kalian sebut sebagai sebuah kenikmatan, membaginya dalam takaran takaran hati dan membagikannya untuk mereka yang terpinggirkan kenikmatan, agar mereka pun merasakan sebuah kenikmatan yang pantas mereka dapatkan  meski hanya lewat pembagian saja, tetapi tetap saja kenikmatan itu ternikmati dan tak berbeda, sebab sebuah kenikmatan selayaknya tak menawar ada atau tiada juga besar atau kecilnya sebuah kenikmatan itu ada.

Senja , matahari diam diam berjalan pergi , menangkupkan semu menjelang malam, sayang tak ada pelangi yang selalu memberi warna alam dengan keindahannya, tetapi biarlah semua tetap berjalan dan apa adanya, sebab menikmati sebuah kehidupan sejatinya adalah “ Menerima apa adanya, sekarang tergambarkan dan esok adalah harapan “ sebelum batas waktu menepikan apa yang di sebut garis hidup dan tepi kehidupan untuk kita tinggali, dan sang pertapa pun pergi, bersemedi dan mensujudkan diri lagi, malam sepi dengan sebuah harap dan kenikmatan yang tersyukuri, “Pagi , semoga kita dapat bertemu lagi “, salam penulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *