0

TUHAN DAN KEABADIAN, SEBUAH DO’A DI PERSIMPANGAN

Tuhan Dan Keabadian, Do’a Di Persimpangan
Sujudku menelaah ukiran sajadah
Kalighrafi suci terbentang seluas cakrawala
Lukiskan malam dengan lusinan keheningan
Dan malam menjadi maharaja dari segala permohonan.

Ada kematian sebelum kematian itu ada
Ada tetes air mata padahal mata kita kering
Juga napas yang tersengal menanggalkan dunia
Tempat di mana kita tertawa serta melupakannya.

Sebuah haqiqi yang terkadang tak sempat kita tinggali
Sebelum ayat ayat suci memanggil dan memaknai
Jiwa kita adalah jiwa yang tersesat
Saat ujung hati kita berkarat dan tak sempat mengasahnya lagi.

Pengakuanlah yang menerbangkanmu
Di persimpangan yang engkau pun tak pernah tahu
Sampai engkau kembali, dan munajatkan diri dalam do’a
Dan di persimpangan, di sanalah engkau menghela sebuah tujuan.

AKU DAN DIRIKU
Terwujud aku
Dari bernas kuasa Tuhan
Yang menyeranta hidup dan kematian
Oleh suatu panggilan atau perjanjian.

Terukir diriku
Dalam sulaman zaman
Yang menghibahkan sebuah tempaan
Tempat berbuat di antara dosa dan pahala.
Berupa aku

Dari kedua sisi yang berlainan
Tujuan bukanlah suatu permainan
Walau perantaraku adalah keajaiban Tuhan.

Aku makna dari sebuah keinginan
Yang tak semestinya tertawan oleh keinginan
Rupaku tak menyerupaiku, itu hanyalah kemudi
Di kemudikan inginNya agar aku menjadi nakhoda.

Mengemudikan kapal diriku dan meniupkan semangat dari ruh ku
Sebebas merpati yang terbang ke sarangnya lagi
Dan, seperti esok hari, matahari akan kembali
Sebab esok aku bukan siapa siapa lagi
Engkau pergi dan aku mencari.

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *