0

Cerpen Jalan Masih Panjang

Cerpen Jalan Masih Panjang, “Aku hanya akan mengerti dari apa dan bagaimana aku menulis, sesuatu yang telah dan sedang kita lalui, sementara waktu seakan menganggapnya itu adalah sia sia “ , dan lalu menulis lagi” Sebuah cerita dari jalan yang mesti kita pilih dan milki, jalan yang kau sebut sebagai tujuan atau pedoman , bagaimana hidup semestinya di lalui “,

Dan itu pasti sobat, hati ini berujar” Jalan adalah sebagai sebuah tuntunan , cahaya di kegelapan tetapi janganlah jalan yang satu akan mengekang jalan lainnya, hingga suatu waktu kau tak punya pilihan lagi, dan hanya itu “ .

Dan setelah itu, sobat pikirkan masa lalu, sebuah jalan yang telah ia lewati dan terlalui dan ia menganggapnya cermin yang berdebu , sebab ada sedikit bercak debu dari cermin hidup dalam genggamannya, dan aku katakan, dan jujur aku sebut itu adalah sebuah kejujuran “ Dan biarkan masa lalumu itu, ia akan memadamkan waktumu sekarang dan yang akan datang, walau ada sedikit kebergunaan darinya, tetapi bukan untuk kita bawa ke masa yang akan datang “.

Dan ia mengangguk , mengerti apa yang aku ucapkan dan aku pun demikian, paham , bahwa ia mengerti sebelum aku, lalu cermin ia letakkan , tergeletak di sela sela lemari miliknya, dan sobat pun berkata “ Mari kita cari cermin baru, sebagai bagian dari melihat bayangan kita sendiri, di masa lalu dan yang akan datang , tanpa bercak debu dan kepalsuan, lalu ia memandangku seakan meminta saran , dan ia ingin dengarkan itu.

Aku hanya tersenyum, “ Ada yang terlupa dalam benakmu sobat, tetapi tak apa , hal itu biasa dalam diri setiap manusia yang banyak di katakan sebagai gudangnya alfa dan kesalahan ! bukankah setiap cermin adalah sama dari waktu ke watu, ia tetaplah aakan membuat bayangan dirimu atau yang lainnya dan bukan selain itu ? sedang kita tak dapat merubahnya terkecuali memecahkannya atau pun meretakannya, agar bayangan yang ada tak sama dengan rupa kita sendiri, dan kita akan bebas melihat diri kita siapa dan sebagai apa !

Sobat tertawa, ingat juga ia rupanya, dan ia bilang “ Maafkan , semua khilafdalam perjalanan, lalu apa cermin itu masih akan kita cari ? tanyanya, dan tak ada kata ,ya, kecuali gelengan kepala saja” Sobat, biarkanlah kita menjadi cermin dari hidup kita sendiri, tak terkekang lagi oleh cermin yang mau tidak mau kita harus menyerupai apa yang ada di dalamnya, dan lebih baik kita takmencari dan mempunyainya lagi , aku tersenyum, juga sobat dan kami sama berkata” Teruslah berjalan , karena jalan masih panjang, salam penulis.

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *