0

Cerpen Di Ujung Langit

Cerpen Di Ujung Langit, Menatap cakrawala “ Ah betapa indahnya ia, dengan guratan guratan awan putih yang seakan berjajar rapi, begitu indah aku lihat .Dan selayaknya hidup sperti itu .  berjajar garis garis hidup untuk kita jalani , satu demi satu.

Dan aku atau kamu juga kalian, mempunyai garis dari cakrawala cakrawala yang indah itu , walau sesekali angin yang kencang mengoyak jejeran rapi dari jalan hidup kita dan kita menyebutnya sebagai duka dan jatuh dalam perjalanan hidup.

Arya hanya tersenyum kecil, mengingat akan kebodohannya dalam menjalani hidup ini , satu kebodohan ataupun mungkin ada banyak kebodohan yang tak kita rasa, dan itu adalah maklumat hidup yang ada dan senantiasa ada dan berada dalam setiap perjalanan hidup kita, puih.

Yang ia ingat akan kebodohannya, dan sekarang ini ia baru ceritakan, lumayan sebagai penggalan yang tak akan terlupakan, ya kebodohan akan sebuah prinsip hidupnya yang ia rasa konyol he he betapa tidak saat orang lain berlomba untuk sebuah kemajuan dunia, Arya masih berkutat akan pengabdian,, dan sebenarnya itulah yang seakan Arya seperti tak menghiraukan dunia, dan ia tersenyum lagi.

Dan mungkin ia masih bertanya, apa benar itu sebuah kebodohan ? ia tak ingin mencari jawabannya sebab jauh perjaanan untuk menemukan jawaban dari semua itu !, lalu kebodohan akan sebuah cinta he he ia tertawa lagi , ya saat orang lain berlomba untuk beraksi dengan apa yang mereka punya, arya dengan mantap bersikap apa adanya ! ya yang kini di anggap sebuah prinsip yang usang , terkecuali hanya sebagai wacana, menipu diri sendiri.

Dan hasilnya, kini ia tertawa terkekeh ! ya bodoh ! pikirnya, satu demi satu cinta terpenggal tak menunggu waktu dan arya hanya bisa pasrah melihat semua itu, semua yang ia cinta seakan meninggalkan dan menanggalkannya, begitu rupanya dunia ! itu yang ia dapat pikirkan kala itu.

Dan sekarang ia hanya bersiap , menunggu waktu atau membiarkannya berlalu ? semua tak usah seperti dulu, zaman sudah berubah dan tak perlu ada sejarah lagi untuk tak memulai sesuatu yang baru,  pengabdian adalah keharusan tetapi juga bukan  sebuah ikatan untuk tak meraih sebuah kemajuan dan juga cinta bukanlah sebuah buku usang yang tetap hanya seperti itu , tetapi akan bersampul beda pada setiap waktu yang di laluinya, tak lagi apa adanya !.

Arya menatap cakrawala yang semakin cerah merekah, dan itu seakan mengingatkan akan bagaimana sebuah hidup mesti di lalui . meski teramat banyak senyum tetapi bukanlah sebuah pemberhentian yang melupakan akan garis hidup yang harus di lalui dengan indah , sekali lagi Arya tersenyum lalu ia juga menatap cakrawala yang memanggilnya , ayolah berjalan dan di sini aku tunggu untuk sebuah kemajuan !.

Arya, adalah sebuah perjalanan , cinta dan juga pengabdian “ Jangan lupakan masa lalu tetapi tetaplah juga berjalan ke depan , semua itu adalah titian untuk keseimbangan jalan yang di lalui akan tetap dan selalu memberi kemenangan, dan cakrawala pun berucap “ Aku tunggu kau di sana ! saat Arya mengiyakan , salam penulis.

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *