0

Cerpen Seperti harapan bintang

Cerpen Seperti harapan bintang , terasa jengah malam ini, angin yang dingin seakan menusuk tulang belulang, menyadarkan diri atas sebuah keterbatasan , keterbatasan atas kekuatan dan kemampuan yang di miliki seorang manusia, menoleh sisi hidup yang berkata” kembalilah kesana, dan aku duduk di balik meja, melarikan apa yang aku ingin sebagai sebuah cerita dan kau dengarkan .
Rasanya tak ada kata, lalu dia kemana, apa ia melarungkan dirinya di putih awan ataupun diam di balik selimut malam akibat dingin yang menyerang ? tidak, tetapi ia berdiri di depan sana, dengan jemari lembutnya yang diam tetapi menawan, menawarkan sebuah harap dan hasrat dan ia memandangku di sudut ragu “ Apa yang kau inginkan ?

Ia, seseorang yang ku kenal dalam detik , bukan seperti jam yang mesti aku tunggu lama dan menjemukan, ia yang aku kenal, masih dalam hitungan detik, tetap diam dan menawarkan penantian, bagaimana memulai, memulai sebuah cinta yang jujur dalam keluguannya, dan itu menggemaskan !

Bintang !

Andai saja ada sebuah lagu, mungkin akan akan buatkan untukmu, ku buat dengan penggaris waktu, menggarisi jalan hidup, membatasimu dan juga cintamu, jangan kau bawa dan pergi dan aku buat lagi tulisan besar dari karton di tepi jalan “ Tetaplah diam di sini !

Dan ia terenyum, “ janganlah kau lakukan itu, kata – kata tidaklah bijaksana andai kau tahu apa semestinya dan kau tahu apa yang ada di balik pikiranku “ dan ia tersenyum, tersenyum yang memperlihatkan deretan giginya yang putih dan berjejer rapi.

He he bukan seperti deretan gigiku yang kurang rapi dan hanyalah sisa dari air kopi he he, biarlah sebab ia tak lakukan itu, seperti yang ia katakan , kata – kata bukanlah hal yang bijaksana, dan ia pernah berkata aku menerima apa adanya, dan aku tersenyum, “ itu bagus “ pujiku. Tetapi menerima bukan sebagai apa adanya , tetapi berpikirlah menerima dengan apa yang ia atau aku punya, pasrah dengan apa yang ada bukan juga sesuatu yang bijaksana.

Kepasrahan, bukanlah jalan akhir dengan tanpa ada usaha, begitu bukan ?

Dan aku lanjutkan “ Lagian aku nggak mau , jika segala sesuatu hanyalah seperti itu, akulah penanggungmu sebagai pengemudi atas dirimu” jujur aku katakan, dan ia tersenyum.

Ya, senyum dari seseorang bernama bintang, seperti bintang yang menawarkan kerlip cahaya dalam hidup , dan juga dia, bahkan , menawarkan apa yang ia punya dalam hidupnya, sebab hidup adalah aku dan juga dia.
Di mana bintang ?

Dan dari perjalanan, waktu memang tak lelah menunggu, tetapi tetaplah dia akan berlalu, memberi perpisahan semu, ya bukankah perpisahan bukan sesuatuyang memisahkan kita sepanjang waktu, ada deretan tangga yang dapat kita baca yaitu “ Lama dan tidak !

Dan , malam juga menawarkan memori, memori yang mengembalikan waktu, menghitung ingatan dalam perjalanan antara aku dan dia, dia dan kamu dan lainnya, barisan dari manusia yang berpasangan .

Lalu terpisah dan nanti akan bertemu, aku rasa malam ini juga dingin, persisi seperti malam itu, malam yang telah berlalu sekian waktu, tetapi tak ada lelah, hanya ada senyum kecil dalam coretan , potlot buntung dan juga kertas usang dan ku tuliskan “ Aku masih menunggu “.
Tak juga ada jengah, nggak apa – apa , bintang akan tetap dengan kerlipnya yang indah dan di tunggu para pengelana malam, memberi isyarat akan sesuatu yang indah, saat jatuh terkatakan” Kau bernasib mujur “ ya , mungkin seperti itulah harapanku dan juga kamu.
Dan juga, masih ada senyum dan juga tatapan bintang , menatap dan tertawa dengan pesonanya, ia hanya berkata “ Aku akan pergi dan akan kembali, janganlah ragu dan tetaplah tunggu aku ! dan aku tersenyum, dia bintang, memberi keheningan dan lalu meramaikannya.

Berselimut dingin dan lalu menghangatkannya, dan aku mengangguk setuju” Aku tak ragukan itu, bintang tak pernah melukis luka, setelah melalui waktu , bintang akan kembali dengan janjinya itu.
Seperti yang aku tunggu , ia akan kembali esok pagi, menemuiku dan tertawa lagi, tersenyum lagi dan menerangi cahaya dengan kerlipnya, atau dengan harapan baru yang ia punya dan akan ia tunjukan padaku.

Ya ini hari sudah larut, tetapi sedikit akan aku tulis untuknya sebuah cerpen , dan saat engkau esok datang , kau akan baca itu “ Cerpen seperti harapan bintang “ beringsut dan duduk di belakang meja dan mulai mainkan kata, untuk seseorang bernama Bintang.

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *