0

Misteri, di ujung jalan

Misteri, di ujung jalan, Misteri di ujung jalan dan biasa di alami oleh orang – orang yang melewatinya, tepatnya melewati ujung jalan cikuya, dan memang hal itu ssuai dengan keadaan tempat tersebut, ya, di ujung jalan yang nampak angker dengan sederet pohon – pohon besar di tepi jalan.

Lalu, selain pohon besar yang nampak sudah berumur tua, juga di lengkapi dengan hawa mistis lainnya , yaitu pohon yang sepertinya berjanggut, hal itu di karenakan akar dari pohon pohon tua tersebut berakar panjang dan menggantung , persis seperti janggut manusia, seram bukan ? itu pada siang hari, apalagi di malam hari, tentu lebih menyeramkan !

Kisah yang di alami Mustasim berawal saat ia kemalaman , dan ia melewati tempat angker trsebut, mau tak mau, sebab untuk sampai ke rumah nggak ada jalan lain selain melewati tempat angker tersebut.

Memang ada jalan lain yang dapat ia tempuh untuk sampai ke rumahnya, tetapi jia ia tempuh pun mungkin akan sepuluh kali lipat perjalanan dari jalan melewati jalan angker tersebut, huh ! ia seakan melepskan rasa ngeri dalam hatinya, mana gelap lagi !

wertuy

Di balik ujung jalan

Kakinya melangkah pelan, ada rasa ragu dalam hatinya untuk melewati tempat yang terkenal dengan penampakan – penampakan yang sering ia dengar dan banyak yang mengalaminya, tadinya ia urung untuk terus melewati tempat angker tersebut, tetapi, ah jika harus memutar malah lebih jauh lagi, mana gelap dan rasanya kaki sudah letih untuk melangkah, sekali lagi ia menarik napas dalam – dalam , menghilangkan rasa khawatir dalam hatinya.

Sampai tak terasa , kakinya telah dekatd engan ujung jalan yang penuh dengan aura mistis tersebut, kepalang, toch nggak ada beritanya, manusia di makan sama hantu ! kecuali oleh binatang buas , ia lanjutkan langkah, Mustasim merasa lega, syukurlah “ pikirnya.

Hatinya seakan terlepas dari rasa takut, di depan sana rasa – rasanya ia melihat seseorang , ya, mungkin sama seperti dirinya yang kemalaman mungkin, agak sedikit jauh ke depan, ia melihat seseorang lagi berjalan, ya , nggak salah orang itupun akan melewati ujung jalan ini, ada teman agar nggak ketakutan” hatinya terasa tenang, ia percepat langkahnya agar nggak terlalu jauh dengan orang yang berjalan di depannya.

Tetapi. Ada yang aneh  ! pikir Mustasim, rasanya ia berjalan sudah engan kecepatan tinggi, tapi aneh , orang yang di depannya tetaplah nggak dapat ia dekati, malah seakan menjauh” Huh , apakah karena perasaanku yang berjalan cepat, padahal kakiku letih dan jalanku sebenarnya lambat, ya, mungkin begitu “ gumam mustasim, dan nggak ada pikiran apapun , ia lanjutkan langkahnya, biarlah yang penting ada teman walau nggak barenagan pun, mungkin ia pun berjalan cepat agar segera sampai tujuannya, sama seperti aku.

Dan, melewati tikungan dari ujung jalan, Mustasim nggak lihat lagi orang tersebut, mungkin sudah jauh pikirnya, sampai ia menengok pinggir jalan, wah ! rupanya orang tersebut beristirahat, ia tampak duduk, mungkin ia kelelahan, pikir Mustasi sekali lagi, dan saat ia lewati ia permisi “ Maaf ki sanak keduluan ! katanya.

Lapat – lapat dalam gelap ia melihat orang itu mengangguk, dan mustasim berlalu saat ia mendengar batuk dai orang tersebut, sejenak ia hentikan kakinya dan bertanya “ Ki sanak nggak apa – apa ? tanyanya, orang itu diam, khawatir perlahan Mustasim mendekati orang tersebut, perlahan dan..perlahan ia dekati.

Nggak  ada jawaban , yang ia dengar tiba – tiba adalah gemuruh angin, juga rasa seram, tapi di sisi lain ia kasihan jika orang tersebut kenapa – kenapa, dan ia mendekat.

Di pucuk pohon di ujung jalan angker itu seakan ramai, dari sudut matanya mustasim seakan melihat sesuatu yang tergantung, hiy! Apa itu yang di sebut kuntilanak ?  ia tak dapat pastikan, sebab ada penampakan lainnya di belakang orang itu.

Ya, penampakan seperti bayangan putih, ah rasanya egup jantung mustasim bergetar keras, serasa mau copot “ Ki sanak, ayo kita pergi, nggak baik istirahat di sini, apalagi malam hari “ sekali lagi ia bicara, mustasim makin nggak menentu, ia seakan mendengar suara tulang beradu, apa yang terjadi ?

Lagian orang itu nggak menjawab, ia terduduk seakan kelelahan, kasihan” bisik hati mustasim. Dan rasa angker dan ngeri makin menjadi sesuatu datang dari sebelah kiri, sementara bunyi gemeretak beradu seperti tulang makin keras, dan saat ia lihat “ Masya Allah ! ia seakan tak percaya, yang ia lihat adalah kerangkamanusia dan tengkorak yang mendekat, rasanya lunglai kaki mustasim.

Tanpa pikir apapun , ia memangku orang yang tampak kelelahan dan lemas tersebut, sekuat tenaga ia bawa agar jauh dari tempat angker itu, sementara terdengar tertawa cekikikan dan suara angker dan asing lainnya, seakan menertawakan dirinya yang ketakutan, rasanya letih, capaek dan ia lunglai saat ia dudukan orang yang ia pangku. Dan ia nggak kuasa lagi berbaring terlentang dengan napas tersengal, lalu siapa orang itu, pelan orang itu bangkit, membuka tudung yang tadi menutupi wajahya “ Ia tertawa, teu ku nanaon Sim ?( nggak apa –apa Sim ? ) sambil membuka tudung dan menyalakan cahaya dari bensin yang ia nyalakan “ Dari mana saja kamu teh, malam – malam baru pulang ? tanyanya.

Mustasim terperangah, ketipu gua ! ia nggak apa – apa siapa dia ? penasaran hati mustasim, ia bangkit dan duduk “ Saha maneh ?( Siapa kamu ? ) tanyanya. Dan orang itu tertawa” Masa nggak kenal atuh Sim ! ia mendekatkan yala api dari bensin pada wajahnya, kelihatan orang itu tersenyum “ Uing pan ( Aku khan ? ), katanya sambil tertawa .

Walaa..h di kira siapa, kamu Bos ya, mustasim tahu itu adalah si bos ya, nama aslinya hafid alias apid ! si Bos tertawa , maaf sim, aku kelelahan tadi, terima kasih telah menggendongku ‘ katanya, ternya di ujug jalan nggak ada apa – apanya, Cuma tengkorak hidup dan kuntilanak bukan ? si Bos tertawa, memang kamu nggak takut Bos ?

Mustasim balik bertanya, dan si Bos tertawa keras “ ha .ha siapa takut , lha wong yang buat hantu – hantuan tu aku sndiri ha ..ha dan si bos tertawa lagi. Mustasim tersenyum, pantas tadi ia duduk dan seakan nggakaada rasa takut, ketahuan dialah si pembuat cerita angker, mustasim pun tertawa ngakak “ Kutan ? ( Oh begitu ? ) katanya.

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *