0

Misteri Ghaib Dunia Lain, Perjalanan ke 10

Misteri Ghaib Dunia Lain, Perjalanan ke 10, Senyatanya , angin yang berdesir adalah pertanda bahwa kita buta akan jalan hidup dan juga rasa, juga buih lautan yang menjadi pertanda, begitu banyaknya dosa yang kita perbuat, di buritan kapal kita berdo’a, semoga kita bukanlah buih pertanda dosa dan saat kapal berlayar kita pun berdoa, semoga angin bukanlah kita lagi, yang tak punya arah tujuan, dan ku lafalkan di perjalanan.

Gelombang mendongakkan kepala, seakan bertanya kemanakah arah tujuanmu ? dan ku jawab dengan bisu dan akhirnya aku katakan padanya “ Aku masih mencari jalan itu, jalan yang masih harus aku tempuh dan aku lalui sebagai mana orang  orang dulu melaluinya, dan ia pun surut menjadi gelombang yang terhanyut, hanyut oleh dirinya sendiri tak sepatah katapun hanyalah sang lumba lumba yang menjadi saksinya, dengan sebuah senyuman.

Dan aku pun sampai di tengah lautan , seluas kita memandang , tetapi jalan hanyalah jejak jejak gelombang kecil, saat aku isyaratkan pada kelasi “ Pelanlah berjalan ! tenanglah di hadapan kemudi sebab sebentar lagi  karang menjelma, tak jauh lagi .

Dan angin pun pergi , apa yang ku isyaratkan benar adanya, jalan sebagai haluan dan bagaimana kita mengemudi,  mengemudikan waktu dan kesempatan tanpa keterpaksaan dan salah jalan, perlahan kapal berlayar, biarlah lambat asalkan sampai tujuan, dan itu akan lebih berarti,  sebab di perjalanan kita dapatkan berbagai pemandangan, keikhlasan, kebenaran dan juga kejujuran yang berkata apa adaanya.

Biarlah orang katakan apa, tetapi begitulah hidup dan kesempatan yang terbiasa Dia berikan dan kita rasakan sebagai sebuah kematangan dan bukan di paksakan !, Biarlah orang maju di depan, sebab itu adalah kemunduran di balik kesombongannya yang akan membakarnya sewaktu waktu tanpa ia sadari.

Dan,  tenanglah kita di belakang , sebab kemenangan akan datang tepat pada waktunya dan akan terpahat di ukiran “ Bahwa itulah kemenangan yang sesungguhnya !, bertelekan tongkat kebesaran dan juga piala yang kau kalungkan sebagai pencapaian perjalananmu yang berharga, dan saat sampai di tepian ucapkanlah “ selamat jalan pada lautan penunjuk jalan !.

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *