1

Misteri Ghaib Dunia Lain : Perjalanan Ke 4

Misteri Ghaib Dunia Lain : Perjalanan ke 4, kesadaran terdampar di balik awan , padahal di kejauhan cahaya begitu terang, tetapi di manakah kini aku berada ? tak terdengar manusia manusia berdo’a, dan entah karena apa seakan aku saat ini tak mendengar apa apa !.

Juga, mengapa seakan kesepian seakan sendiri di balik mega dan saat aku tanya diriku, tetaplah tak ada jawab yang pasti,  seakan bumi tak ada lagi dan di mana aku berpijak  kini ? bumi tak aku rasakan hanya jendela awan yang satu demi satu tersingkapkan , dan aku bimbang , antara hidup dan kematian.

Kesadaran yang mengambang , ya aku lupa , saat aku terbangun dari mimpi dan itu kesadaran yang nyata, yang aku rasa aku keluar dari jasad, dan terasa amat perih ! apa itu sakaratul maut ? tetapi di manakah malaikat pencabut nyawa yang bernama izra’il berada, aku belum melihatnya !.

Dunia dan kesadaran seakan menjelma dalam satu, tetapi dari dua sisi yang berbeda,  dan mengapa aku seakan terbang, dengungan di atas kepalaku seakan bertanya “ Kamu siapa ? hingga terbang melintasi awan, ? ‘ Apakah kamu yang di namakan kepenasaran ? semakin jelas awan bertanya, dan aku tafsirkan sang awan adalah kehidupan , satu makhluk di angkasa raya, “ Dengan siapa aku bicara ? awan menyaput “ Akulah yang ada, bukalah mata dengan satu rasa percaya yang bernama keyakinan !.

Lalu aku pun berjalan dalam arti terbang  ! hampir menabrak meteor yang melintas di hadapanku, menghentikan lajunya, menolehku dan punya pertanyaan yang sama “ Siapa kamu, dan untuk apa berada ? tak ku hiraukan , sampai ia melelehkan bagiannya dan berkata” Jika itu yang namanya penasaran, maka teruslah berjalan, ia melaju dan melelehkan bagianya satu persatu.

Dan aku semakin tinggi berjalan . itu yang ku rasakan ! lalu setangkup bintang memberi terang , bertanya dan menghilang , “ Siapa kamu, teruslah berjalan, tubuhku terguncang ! apa yang ku lihat, sebuah pirig terbang ! Dan aku dapat melihatnya kini ! tak perlu mencarinya sebagai  misteri lagi, bukan seperti yang tergambarkan, dan aku yakini itu, berhenti sejenak , membuka jendela “ Siapa kamu dan apa yang kau cari di sini ? dalam bahasanya,  lalu terbang dan pergi, tetapi dalam samar dan kesadaran , dia bukanlah manusia seperti kita  dialah alam ghaib yang nyata, seperti kita dan punya kehidupan yang nyata di alamnya, mereka manusia yang di sebut samar dan terdampar atau menyamar ke muka bumi, tempat di mana kita berada !.

Kemana Aku Berjalan ?

Dan aku berjalan semakin tinggi , lewati tiang tiang langit yang tak ku tahu di manakah ujung tiang tertancap, di muka bumi kitakah ? tak ada jawaban, begitu sulit memang, sebab jawabannya adalah yang di sebut “ Keimanan “ bukan rasa penasaran, dan lalu lanjutkan perjalanan, bertelekan guntur yang menggelegar juga beralas awan yang sedari tadi mengajakku terbang, tepat di atas kami berhenti , sejenak ku pandang lagi, sebuah perjalanan nisbi yang mengekor tadi mengguratkan kerutan kerutan di sisa sinar mentari , biarlah akan  kubacakan dan kutulisi lagi saat aku tiba di bumi.

Dan tak ada lagi bumi , tempat aku bertanya dan memperjuangkan hidup ini, dan aku rasakan seakan tubuhku meleleh , melukar diri satu persatu, dan mereka menjadi aku, berbaris di hadapanku, “ Kamu ini siapa/ Tanyanya walau dalam hati, akulah yang harus bertanya seperti itu “ satu di antara mereka maju danku kenal itu aku dan dia tahu” Akulah kamu yang hidup sebagai perasaanmu  !, lalu apa pertanyaanmu ? ia bertanya. Di mana aku ? tanyaku pendek dan ia menjawab Tataplah kami satu persatu sebagai dirimu, aku adalah perasaan dan kau lupa ,Tuhan bukanlah perasaan tetapi yang mempunyai perasaan untuk di rasakan semua makhluknya, lalu yang kedua bicara sebagai aku “ Akulah dirimu yang setiap hari bahkan sepanjang hidupmu menyeretmu ke dalam dosa dan aku di namai hawa nafsu, dan yang ketiga pun maju “ Aku adalah  dirimu yang selalu membawa dirimu pada keimanan dan aku yang di sebut iman dan ketaqwaan, yang ke empat pun begitu “ aku adalah dirimu dan aku di sebut perjuangan dan ikhtiar, aku diam dan yang ke lima pun maju dan berkata “ Aku juga kamu , yang melahirkan sombong dan ketakaburan lewati hawa nafsu dan kejahatanmu, ke enam “ akulah yang di sebut hubbud dunnya di mana kamu seakan akan tak akan mati karenanya, dan yang terakhir pun maju dan berkata “ akulah dosa dari segala dosa, menyekutukan tuhan dan menghalangi kebenaran dan akulah yang kamu dan ikhwan mu menyebutnya syirik dan kekufuran, setelahitu  hilanglah dalam pandangan, kelu tak mau lagi lanjutkan perjalanan.

Sebuah tangisan kebodohanlah di saat sebuah ilmu datang , tuhan adalah tuhan dia yang mengawali dan dia yang mengakhiri , seperti mengakhiri perjalanan ini, dan aku menangis lagi , sebelum terbangun di pagi hari, dan yang ku rasa “ Itu bukanlah mimpi “ , salam penulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *