0

Misteri : Perjalanan Dunia lain ke 8

Misteri : Perjalanan Dunia lain ke 8, Sesaat aku sadar diantara bayangan dan tubuh ada suatu batas yaitu di antara realita dan ilusi, sebagaimana tertulis dalam kitab kalbuku yang menuliskan hal itu untuku

Semua batas antara dunia yang akan rusak dan juga batas antara ilusi dan jiwa yang tak akan pernah rusak dan selalu mengembara dan selalu mengikuti kita, dan bukan raga kita.

Batas yang menembuskan sebuah keabadian di dalamnya bahwa yang ada bukanlah tampaknya nyata , tetapi sebuah perjalanan yang akan berakhir pada  akhirnya, yaitu akhir dari kehidupan dari jasad kita dan terkadang seakan kitalah yang mempunyai sebuah kehidupan, padahal itu tak dapat kita pastikan.

Batas di mana sebuah kesadaran tak berguna di balik kerusakan tubuh yang mengendap di iwa dan akhirnya bersemayam di dalam tanah, tanah yang menjadi sebuah saksi kehidupan kita dan akan kembali padanya, mau ataupun tidak.

Dan aku bertanya, mestikah sebuah raga seperti itu atau egoiskah sang jiwa ? dan tanah hanya tertawa, lihatlah di cermin penciptaanmu, bukankah sesuatu telah engkau janjikan padaku  ? sesuatu yang kadang engkau lupakan suatu waktu ? , ya , aku tahu itu tetapi dasar dari semua itu adalah keinginaku ? dan ia tertawa lagi , tertawa di balik gugusan api dari lahar lahar dari gunung berapi atau dari semburan gas yang  tidak bisa padam saat dia marah , marilah , masuklah kedalamnya dan ketahuilah semua.

Dan aku setengah terpaksa mengikutinya, mengikuti akan apa yang ia tahu dan aku tak tahu, dan mungkin sekarang aku akan tahu itu ! masuklah dalam tubuhku dan kau akan temukan rasa kepenasaranmu itu ! memasuki lubang dari tubuh sang tanah  yang menghempaskanku dalam kepanasan yang sangat, dan ia tertawa, janganlah masuk seperti itu sebab aku bukan dirimu walau aku adalah asal mula penciptaanmu.

Mulailah dengan jiwa yang membuat aku terlupa dengan apa yang di sebut rasa, dan aku tahu kini semua begitu menyegarkan pikiranku, ya aku tahu jalan itu, satu demi satu , dan berjalanlah lewati titian waktu dan mereka reka apa yang terjadi pada masa kini dan lalu, pertama aku lewati jalan buntu sang tanah hanya berkata “ Itulah hidupmu, buntu di saat kepastianmu tiba dan tak ada jalan kemana untuk lari dan pergi bersembunyi.

Dan aku mengangguk setuju, biarlah itu , marilah kita berlalu ! mari kita lihat dalam tubuhmu itu dan aku pun pergi bersamanya, terdampar di lautan biru di kedalamannya, ia menolehku dan bertanya “ apakah yag kau tahu akan itu ? kelu aku hanya menggeleng tanda tak tahu “ Semua manusia mempunyai air kehidupan dalam dirinya dan tergantung bagaimana cara mereka dan juga mewarnainya.

Berjalan lagi agak ke  hulu dan yang ada pohon rindang yang aku merasa teduh bersandar di batangnya, selonjorkan kaki tanda aku ingin beristirahat lagi, dan apa yang terjadi  ? pohon pun berkata “ Inilah kami sesuatu yang tak kau mengerti dan kau pahami, bahwa hatimu adalah pohon rindang tempat di mana sesuatu hal dapat terbagi dan juga berbagi, dan sebagai penyejuk hati di saat engkau sendiri dan aku tertidur untuk melanjutkann perjalanan ini jika saja aku sudah bangun nanti, salam penulis.

 

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *