0

SAMPAI WAKTUNYA TIBA DAN KAU PUN AKAN TAHU

Sampai Waktunya Tiba Dan Kau Pun Akan Tahu, Cinta pun berkata seperti itu ! di balik pohon perdu menasikan hamparan butiran pasir, memanggil ombak berulang – ulang untuk diam dan mendengarkan.

“ Kapan kereta waktu akan berjalan ? ..Kapan camar akan datang dan menari di ufuk senja, atau di terbitnya matahari , indah sekali ! bak syair dari syurga yang di taburkan dengan ucap para dewa yang senantiasa melantunkannya, bergema, di puncak gunung atau hembusan angin.

Atau di pusara para pujangga yang selalu bersyair dari do,a – do,a para penziarahnya. Menabur bunga keindahan dan air mata sebagai kenangan berharga, untuk selalu mengingatnya dan juga dari tasbih yang melingkari jari untuk lafalan sejahtera bagi ruh penghuni pusara.

“ Entahlah, bangun dari tiada atau tiada dan bangun kembali” melangkahkan kaki dan berjalan kembali hingga saatnya tiba, sebagai tujuan dan sampai pada pertanggungjawaban biarkanlah karena hidup adalah kematian dan sebaliknya.

“ Karena cermin dirimu adalah pencerminan dirimu dari yang lalu kita lalui dan yang akan datang dan akan kita lewati “ , helai demi helai saat akan menanti terkadang kita terlupa untuk mengingat dan menyapanya lagi.

Di setiap halte dan menanti kemana tujuan selanjutnya ? apakah ada dari relung hati yang tertinggal dan tertanggalkan ? diam dan berpikir sebelum jauh berjalan, dan sampai pada tujuan , mengambil waktu karena lelah dan lama berjalan. Sampai waktunya tiba, rasa cinta yang terasakan tak lagi bergema, tak lagi indah dan memperdaya ! juga rindu bukanlah sebuah keinginan lagi, pun do,a – do,a yang di lafalkan bersama – sama.

Sampai saatnya tiba, cinta tak lagi indah untuk di kenang, dan tak lagi elok untuk di lukiskan..sebagai sebuah memori. Sampai waktunya tiba, tak lagi merengkuh harapan yang selalu datang.

Untuk kita genggam sebagai sebuah alur hasrat dan tujuan. Sampai waktunya tiba, tak ada halte – halte lagi sebagai perhentian, yang ada dari halte mana kita menulisi hari sebagai pengabdian, sampai saatnya tiba , takan lagi ada ucap, hidup telah menghentikan kendaraannya .

Jawablah “ Karena itu bukan dirimu !..di sinilahkematian dan harus engkau pertanggungjawabkan, “ Sudahkah hidup sebagai pengabdian ?

Asep Zepelin

Hanya Manusia Biasa Dengan Sejuta Mimpi yang akan menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *